Terdakwa Kasus JIS Cabut Keterangan Saat di Polda Metro Jaya

0
450
Yohanes Tangur (tengah), salah satu kuasa hukum Miss Hari
Yohanes Tangur (tengah), kuasa hukum Zainal Abidin Bin Subrata
Yohanes Tangur (tengah), kuasa hukum Zainal Abidin Bin Subrata

Floresa.co – Para terdakwa kasus kekerasan seksual di Jakarta International School (JIS) telah mencabut semua keterangan yang pernah diberikan sewaktu pemeriksaan di Polda Metro Jaya bulan Maret lalu.

Pasalnya, mereka mengu saat dimintai keterangan oleh aparat Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polda Metro Jaya terjadi praktek intimidatif.

Para terdakwa yang sudah mencabut kembali keterangannya pada masing-masing, Zainal Abidin Bin Ali Subrata, Syahrial bin Nasrul Jaka, Agun Iskandar, Virgiawan Amin, dan Afrischa Styani Alias Icha.

Mereka mangatakan, saat diperiksa mengaku sebagai pelaku kekerasan seksual lantaran diancam para penyidik.

Yohanes Tangur, kuasa hukum Zainal mengungkapkan saat hadir dalam sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Kamis (4/12/14) para terdakwa berada di bawah tekanan karena ancaman dan penganiayaan oleh penyidik.

Penganiayaan oleh aparat Polda Jaya itu juga disebut-sebut sebagai dalang di balik kematian Aswar salah seorang pelaku kekerasan seksual yang ditangkap.

Kata Yohanes, pada persidangan tersebut, Zainal dengan ekspresi penyesalan mendalam menyampaikan permohonan maaf kepada Agun dan Syahrial karena telah menyebut nama mereka di hadapan penyidik sebagai pelaku kekerasan seksual terhadap korban MAK.

Dikatakannya, Zainal dengan jujur mengatakan penyebutan kedua rekannya itu karena terpaksa, sebab ia diancam aparat penyidik PPA.

Yohanes menambahkan, sidang Kamis lalu menjalani dua agenda. Kata dia, selain mendengarkan keterangan 5 orang terdakwa sebagai Saksi Mahkota,  juga menjalan agenda lain yaitu mendengarkan kesaksian dari penasehat hukum para terdakwa sewaktu pemeriksaan di Polda Metro Jaya.

Siapa Zainal?

Zainal, demikian Yohanes, menurut ibunya lahir pada masa kandungan 6 bulan alias prematur. Pada usia 5 tahun, baru ia bisa berjalan dan masuk Sekolah Dasar (SD) di usia 9 tahun. Sejak SD hingga tamat SMA selalu diantar jemput oleh bapaknya. Karena kondisi fisik inilah maka selama hidupnya Zainal tidak pernah sekalipun mendapatkan pukulan atau kekerasan fisik dari orang tua atau keluarganya.

Zainal selain bekerja sebagai Cleaning Service di JIS, juga menjadi tukang ojek.  Hal ini dilakukan untuk membantu kehidupan keluarganya. Ayah Zainal seorang tukang. Sang ayah membiayai kuliahnya dengan berojek. Selain itu, sebagai tulang punggung keluarga, Zainal dan sang ayah menghidupi 4 orang anak yatim. (ADB/Floresa).

Advertisement
BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini