Ini Kata Kapolda NTT Terkait Pengeroyokan Mahasiswa di Kupang

1
796
Salah seorang anggota polisi diduga menganiaya Saturnimus Djawa, koordinator umum aksi demo yang juga adalah anggota Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Kupang. (Foto: Kompas.com)
Salah seorang anggota polisi diduga menganiaya Saturnimus Djawa, koordinator umum aksi demo yang juga adalah anggota Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Kupang. (Foto: Kompas.com)
Salah seorang anggota polisi diduga menganiaya Saturnimus Djawa, koordinator umum aksi demo yang juga adalah anggota Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Kupang. (Foto: Kompas.com)

Floresa.co – Pada Selasa kemarin (2/12/2014), sejumlah anggota kepolisian daerah (Polda) NTT mengeroyok mahasiswa Universitas Widya Mandira (Uniwira) Kupang yang sedang berunjuk rasa.

Tak hanya itu, Marga Siswa Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) yang tak jauh dari lokasi unjuk rasa,  juga dilaporkan dirusak aparat kepolisian.

Kapolda NTT, Brigadir Jenderal Endang Sunjaya mengatakan kepada Floresa.co, Rabu (3/12/2014), peristiwa tersebut bermula dari unjuk rasa yang dilakukan mahasiswa menentang trafficking.

Para mahasiswa, kata Endang, menuntut Rudy Soik, anggota kepolisian NTT yang menjadi tersangka dalam kasus penganiayaan terhadap Ismail Paty dibebaskan dan kembali menjadi penyidik di Polda NTT.

Tak hanya itu, para mahasiswa juga menuntut Polda NTT memproses Direktur Khusus (Dirsus)  Komisaris Besar Mochammad Slamet dan Direktur Umum Kom Besar Sam Kawengian.

Dua petinggi kepolisian daerah NTT ini sebelumnya dilaporkan Rudy Soik ke Komnas HAM, Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) dan Ombudsman RI karena diduga menghalangi proses penyelidikan dugaan trafficking yang melibatkan PT Malindo Mitra Perkasa.

Endang mengatakan, para mahasiswa dalam unjuk rasa kemarin menuntut untuk bertemu langsung dengan dirinya. Namun, dirinya sedang ada tugas ke Semarang. Para mahasiswa pun selanjutnya meminta untuk bertemu dengan Wakil Kapolda Kombes Pol Sumartono Jochanan.

Sumartono kemudian memerintahkan Kabid Propam untuk melakukan mediasi dengan para pengunjuk rasa.

“Agak lama mereka melakukan orasi dan memaki-maki anggota dan melempar anggota dengan aqua dan menarik emblem provos sampai robek,” cerita Kapolda Endang mengutip laporan bawahannya.

Kemudian, lanjut Endang, terjadi aksi kejar-kejaran oleh anggota terhadap para pengunjuk rasa. Tetapi dihentikan oleh Komandan Provos. Beberapa mahasiswa kemudian diamankan di kantor Provos.

Setelah dilakukan negosiasi, tiga orang perwakilan pengunjuk rasa bertemu dengan Kadis Pengamanan Internal (Paminal). Dalam pertemuan ini, cerita Endang dicapai kata kesepkatan diantaranya dalam waktu satu minggu dari kemarin, para pengunjuk rasa meminta bertemu langsung dengan Kapolda. Setelah ada kesepekatan, para pengunjuk rasa pun bubar demikian juga yang diamankan di  kantor Provos dipulangkan. (PTD/Floresa)

Advertisement

1 Komentar

  1. Sejajarah mencatat bahwa perbudakan "human trafficking" terjadi sejak jaman dulukala; di Flores (manggarai) Watu Jaji menjadi saksi bisu sebagai tempat pertukaran budak. biasanya budak2 ditukar dengan hewan spt Kuda, kerbau,Dll. kejadian ini dalam bahsa manggarai disebut dengan "TAKI MENDI". itu artinya sudah banyak orang2 manggarai diaspora karena hal tersebut….sejarah kelam tentang TAKI MENDI tidak boleh terjadi lagi dijaman ini yang sudah mengalami transformasi dlam betuk lain….karena itu saya menyambut baik seruan itu #FuckThePollice N #copotKAPOLDANTT

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini