Kontribusi Sektor Tambang untuk NTT Tak Sampai 2 Persen

1
1484
Salah satu lokasi tambang di Sirise, Kabupaten Manggarai Timur. (Foto: JPIC-OFM)
Salah satu lokasi tambang di Sirise, Kabupaten Manggarai Timur.
Salah satu lokasi tambang di Sirise, Kabupaten Manggarai Timur.

Floresa.co – Kehadiran industri pertambangan di NTT masih menjadi pro dan kontra hingga kini.

Setidaknya sejak 2010 lalu, ketegangan antara kubu yang pro dan kontra sangat terasa baik di media sosial maupun di masyarakat.

Kubu yang pro mengatakan pertambangan akan membawa manfaat ekonomi bagi masyarakat NTT. Sebaliknya, yang kontra mengatakan pertambangan merusak lingkungan dan bukan merupakan sektor menjanjikan untuk NTT, yang mayoritas warganya adalah petani.

Berangkat dari asumsi kelompok yang pro pertambangan bahwa industri ekstraktif ini membawa manfaat ekonomi bagi masyarakat NTT, Floresa.co mencoba menganalisis kontribusi  sektor pertambangan untuk NTT.

Berdasarakan data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) provinsi NTT yang dirilis Badan Pusat Statisitk (BPS) tiap tiga bulan (triwulan) ternyata kontribusi sektor pertambangan untuk keseluruhan PDRB NTT tidak sampai 2%.

Floresa.co mengambil data PDRD per triwulan sejak 2010 lalu, dimana sektor pertambangan mulai intens masuk ke provinsi NTT.

Tahun 2010, misalnya, bila dihitung per tiga bulan,  rata-rata kontribusi sektor pertambangan hanya 1,34 % dari total PDRB NTT.  Angka ini pun tak beranjak saban tahun hingga triwulan ketiga 2014 ini.

Tahun 2011, rata-rata kontribusi sektor pertambangan hanya 1,33%. Kemudian tahun 2012 sebesar 1,3 4%, 2013 juga 1,34% dan hingga triwulan ketiga 2014 ini masih tetap 1,34%.

Sejak 2010, total PDRB provinsi NTT berkisar antara  2,9 triliun hingga Rp 3,9 triliun per triwulan.  Dan  kontribusi sektor pertambangan hanya berkisar antara Rp 38 miliar sampai Rp 54 miliar per triwulan.

Pada triwulan ketiga 2014, misalnya, dari total Rp 3.96 triliun PDRB NTT, sektor pertambangan memberikan kontribusi sebesar Rp 54 miliar atau hanya 1,37%.

Walaupun kontribusi sektor pertambangan terbilang minim, mengapa kepala daerah di NTT ngotot menerima pertambangan?

Edi Danggur, Praktisi Hukum sekaligus pengajar Ilmu Hukum Universitas Atmajaya  Jakarta mengatakan, hal ini memang aneh, tapi begitulah yang terjadi dengan NTT.

“Kalau ada bupati yang ngotot bela tambang karena ia sudah  terima suap,”ujar Edi.

Menurut Edi, satu Surat Keputusan (SK) penerbitan Izin Usaha Pertambangan (IUP) bisa dihargai sebesar Rp 500 juta oleh kepala daerah.

Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) total jumlah IUP di NTT yang diterbitkan dalam kurun waktu 2008-2012 mencapai  126 IUP dengan total luas mencapai  2.364,63 kilometer persegi atau sekitar 5% dari total luas daratan NTT  48.718,1 kilometer persegi.

“Kalau kontribusi sektor pertambangan tak sampai  2%, kenapa harus pertaruhkan masa depan anak cucu, tak sebanding pengorbanan dan pendapatan,” kritik salah satu warga NTT, Edel Jenarut. (PTD/Floresa)

Advertisement
BAGIKAN

1 Komentar

  1. NTT….NTT…Nanti Tuhan Tolong….tapi sampai kapan kita menunggu…..
    NTT….NTT…Nusa Tanpa Tambang berikut produk produk tambangnya…beranikah….
    NTT….NTT…Nusa Tunda Tunda…ya..kapan bisa maju kalau di tunda tunda terus????
    NTT….NTT…Nusa Tiada Tentu…Nusa Tanpa Tujuan…dan masih banyak julukan miris untuk NTT
    Marilah kita sama sama mendukung semua potensi yang ada di NTT untuk kemajuan dan kemakmuran warga NTT yang 24 jam, 365 hari hidup dan menaruh harapan untuk melanjutkan kehidupan anak cucunya dari semua Potensi yang ada di tanah leluhurnya.
    Tugas kita yang hanya 1, 2 hr tinggal di NTT 364.362 hari di luar NTT mengontrol sekaligus memberikan masukan ke semua unsur masyarakat NTT (Pemda,LSM,unsur Adat dan perkumpulan atau asosiasi apalah itu..)agar semua pontensi daerah NTT yang mau di gali benar benar akan ada manfaatnya bagi seluruh masayarakat NTT yang 24 jam dan 365 hari hidup dan berada di NTT. itu baru namanya AKU CINTA NTT…..

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini