Kapolda NTT: Saya Akan Tindak Tegas Oknum yang Terlibat Trafficking, Termasuk Polisi

0
786
Kapolda NTT Endang Sunjaya, usai bertatap muka dengan petinggi Polres Manggarai di depan Aula Missio STKIP Ruteng, Minggu (21/9/2014). (Foto: Floresa/Ardy Abba)
Kapolda NTT Endang Sunjaya, usai bertatap muka dengan petinggi Polres Manggarai di depan Aula Missio STKIP Ruteng, Minggu (21/9/2014). (Foto: Floresa/Ardy Abba)
Kapolda NTT Endang Sunjaya (Foto: Floresa/Ardy Abba)

Floresa.co – Brigjen Pol Endang Sunjaya pada 3 September 2014 lalu resmi dilantik menjadi Kepala Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Timur (Kapolda NTT) menggantikan Brigadir Jenderal I Ketut Untung Yoga Ana.

Salah satu tugas berat yang dihadapi pria kelahiran Jakarta, 2 Juli 1958 ini adalah memberantas human trafficking atau perdagangan manusia berkedok perekrutan Tenaga Kerja Indonesia (TKI).

Endang sendiri sesaat setelah dilantik menjadi Kapolda NTT menyatakan NTT adalah provinsi dengan kontribusi terbesar korban trafficking di Indonesia. Dia pun sudah membentuk Satuan Tugas Pemberantasan Trafficking di NTT.

Endang mengakui, pemberantasan human trafficking ini tidak mudah. Tetapi dia berjanji akan bekerja keras untuk memberantas kejahatan kemanusiaan tersebut termasuk menindak tegas oknum di Polda NTT yang disinyalir bermain mata dengan perusahaan-perusahaan yang diduga terlibat, termasuk salah satunya PT Malindo Mitra Perkasa.

Menurut catatan LSM Padma Indonesia, setidaknya ada empat  kasus yang melibatkan perusahaan milik Arianisti Zulhanita Putri Basry ini yang tidak ditindaklanjuti oleh Polda NTT, termasuk kasus 52 calon TKI yang disidik oleh Brigadir Rudy Soik.

Kasus ini terungkap dari hasil penggerebekan yang dilakukan oleh  penyidik Polda NTT sendiri di kantor cabang PT Malindo di Kelurahan Maulafa, Kupang pada awal tahun ini.

Beberapa waktu lalu, Rudy Soik mengadukan atasannya di Polda NTT terkait mandeknya penyelidikan kasus tersebut. Kini, Rudy menjadi tersangka dalam kasus penganiayaan terhadap Ismail Paty Sanga, warga Adonara, Flores Timur. Penetapan Rudy sebagai tersangka menimbulkan rasa was-was pada sebagian besar masyarakat NTT akan komitmen Endang Sunjaya untuk memberantas mafia trafficking di NTT.

Karena itu, Floresa.co mencoba memwawancarai Endang Sunjaya pada Jumat (28/11/2014) lewat layanan WhatsApp. Berikut petikannya:

Sejauh mana penangananan kasus-kasus TKI yang melibatkan PT Malindo Mitra Perkasa?

Saya berkomitmen untuk mengungkap jaringan trafficking termasuk PT Malindo Mitra Perkasa. Saat ini Teddy Moa (seorang yang diduga perekrut lapangan PT Malindo – red) sedang diproses dan kita akan telusuri keterkaitannya dengan PT Malindo tersebut.

Bagaimana dengan dugaan keterlibatan bawahan Anda di Polda NTT seperti yang dilaporkan Brigadir Rudy Soik ke Komna HAM, Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban serta Ombudsman Republik Indoensia?

Saya akan menindak tegas bila terbukti ada keterlibatan di sana. Dan saya tidak akan membiarkan institusi Polri yang saya cintai dikotori oleh oknum-oknum yang melibatkan diri dalam jaringan trafficking.

Terkait Rudy Soik, mengapa dia dipidana, bukan ditindak oleh Divisi Profesi dan Pengamanan (Propam) sebagaimana lazimnya dalam institusi Polri ketika ada anggota yang melakukan kekerasan terhadap masyarakat?

Maaf, untuk Rudy Soik masalahnya ada tindakan penganiayaan terhadap korban yang melaporkan ke polisi. (Tindakan) yang bersangkutan  adalah perbuatan pidana. Apabila perbuatan pidana, (sudah) ada keputusan yang (berkekuatan hukum) tetap, maka akan dikenakan kode etik.

[Endang Sunjaya tidak menjawab pertanyaan terkait sanksi kode etik seperti apa yang akan diberikan kepada Rudy nantinya bila dia terbukti bersalah dalam kasus penganiayaan terhadap Ismail].

Ada kesan Rudy Soik didiskriminasikan oleh institusinya sendiri. Dia melakukan penganiayaan  terhadap Ismail dalam kapasitas dia melakukan penyelidikan terhadap trafficking di NTT. Mengapa justru dipidanakan?

Maaf, sekalilagi saya tidak pernah mengkriminalisasikan seseorang apalagi anggota saya. Tetapi saya juga tidak akan melindungi anggota yang menyalahgunakan wewenang, apalagi melakukan penganiayaan  terhadap orang yang tidak bersalah. (Bila ada) seseorang yang dianiaya oleh anggota saya, apakah bapak akan membiarkan hal ini? Tanya pada nurani dan perasaan bapak bila korban adalah saudara atau anak bapak?

Masyarakat NTT menaruh harapan besar pada bapak untuk berantas trafficking di NTT. Apa yang Anda harapkan dari masyarakat NTT dan pemerintahnya?

Saya mengharapkan masyarakat NTT  untuk mendukung penuntasan masalah trafficking, yang memang sangat berat ada di pundak polisi. Dan saya akan menindak keras oknum yang terlibat di dalamnya termasuk polisi sendiri. (PTD/Floresa)

Advertisement

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini