DPRD Manggarai Pertanyakan Amdal PT Nampar Nos

1
687
Marsel Ahang, anggota DPRD Manggarai (Foto: Ist)
Marsel Ahang, anggota DPRD Manggarai (Foto: Ist)
Marsel Nagus Ahang, anggota DPRD Manggarai (Foto: Ist)

Ruteng- Floresa.co – Aktivitas PT Nampar Nos, perusahaan air minum dalam kemasan yang menyedot air di dekat kota Ruteng, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), terus dipertanyakan.

Salah satu anggota DPRD kabupaten itu, Marsel Nagus Ahang mempersoalkan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) perusahaan tersebut.

Salah satu yang dipertanyakan anggota fraksi gabungan dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini adalah keberadaan perusahaan di dekat pemukiman penduduk warga Kampung Leda, Ruteng.

“Hasil Amdal PT Nampar Nos sarat manipulasi,” ujarnya, Selasa (25/11/2014).

Ia pun meminta keberadaan perusahaan tersebut perlu ditinjau kembali oleh pemerintah, terutama karena pada musim kemarau lalu terjadi kekurangan pasokan air di kota Ruteng.

Kekurangan pasokan air ini memang belum bisa dipastikan apakah terkait akitivitas PT Nampar Nos yang menyedot 30.000 liter air setiap hari.

Namun, di tengah masyarakat muncul spekulasi bahwa aktifvtas perusahaan yang memproduksi air dalam kemasan dengan merek Ruteng itu sebagai salah satu pemicu kekurangan air, pihak perusahaan sudah membantah tudingan tersebut.

Sementara itu, DPRD sudah merekomendasikan kepada pemerintah untuk melakukan kajian ilmiah soal pengaruh penyedotan air PT Nampar Nos dengan kekurangan air di kota Ruteng.

Hal itu ditindaklanjuti pemerintah dengan meminta Badan Geologi di Bandung untuk melakukan kajian.

Sedangkan, terkait Amdal, Kepala Dinas Pertambangan Kabupaten Manggarai, Fransiskus Kakang mengatakan tidak ada yang salah dengan Amdal PT Nampar Nos.

Ia pun meminta masyarakat untuk tidak hanya berspekulasi terkait dampak lingkungan dari aktivitas PT Nampar Nos. Menurutnya, harus ada kajian yang ilmiah. “Pemerintah mensyukuri kalau ada masyarakat yang punya referensi, mampu mengatakan kepada pemerintah bahwa itu (Amdal) janggal,” ujarnya. (ABD/Floresa)

Advertisement
BAGIKAN

1 Komentar

  1. Neka poka puar adalah wejangan nenek moyang yang kini hilang ditelan waktu. Kebiasan menebang pohon di hutan,membakar hutan untuk membuka lahan perkebunan atau membangun rumah yang sering kita lakukan jauh sebelum adanya PT. Nampar Nos malah menjadi penyebab awal berkurangnya debit air, ditambah dengan kondisi sungai-sungai yang notabene adalah sungai musiman, lalu seolah-olah kehadiran PT.Nampar Nos lah yang mengakibatkan berkurangnya debit air. Perlu penelitian ilmiah yang betul-betul menunjukan pengaruh kehadiran perusahan tersebut, bukan berdasarkan asumsi atau pendapat subjektif yang di benarkan. Sebagai masyarakat manggrai kita pun perlu berintrospeksi diri, tidak hanya mencuci tangan diatas "kesalahan" yang dulu kita lakukan dengan melemparnya ke pihak lain. Wejangan dalam lagu ngkiong,neka poka puar dan sebagainya perlu menjadi bahan refleksi agar benar-benar terbentuk rasa cinta ekologis sebagaimana pesan paus fransiskus dan para imam dalam kotbah mingguan.

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini