Kasus Rudy Soik, Migrant Care: Ini Indikasi Mafia Perdagangan Manusia Berkuasa di NTT

0
839
Rudy Soik (Kanan)
Rudy Soik (Kanan)
Rudy Soik (Kanan)

Floresa.co – Wahyu Susilo, peneliti pada lembaga pemerhati tenaga kerja Migrant Care menilai penahanan Brigadir Rudy Soik oleh Polda Nusa Tenggara Timur (NTT) mengindikasikan maraknya mafia perdagangan manusia di provinsi tersebut.

Sebagaimana diberitakan, pada 19 November 2014, Polda NTT menahan Brigpol Rudy Soik atas dugaan kasus penganiayaan terhadap Ismail Paty Sanga (30), warga Adonara, Kabupaten Flores Timur pada Oktober 2014. Ismail diduga sebagai salah satu calo perdagangan manusia.

Padahal, sebelumnya, Rudy melaporkan atasanya di Polda NTT ke Ombusman, Komnas HAM dan Mabes Polri terkait dugaan keterlibatan dalam kasus human trafficking di NTT

“Penahanan Rudy memperlihatkan mafia perdagangan manusia berkuasa terang-terangan di NTT,” ujar Wahyu saat dihubungi Floresa.co, Selasa (25/11/2014).

Perdagangan manusia, menurutnya, merupakan fenomena gunung es. Angka sebenarnya, katanya, masih jauh lebih tinggi.

Terkait penyebab marak perdagangan manusia di NTT, Wahyu beranggapan, hal ini terjadi lantaran daerah NTT merupakan wilayah miskin.

Hal ini diperparah dengan kondisi birokrat yang korup dan masyarakat sipil yang lemah.

“Wilayah NTT itu miskin, para birokratnya korup dan pengawasan masyarakat sipilnya lemah,”katanya.

Dia juga menduga adanya keterlibatan pejabat publik dan aparat penegak hukum. “Tahun lalu, Disnaker Kupang ditangkap dan Rudy tahun ini bongkar keterlibatan polisi dalam penghentian pemeriksaan kasus human trafficking di NTT,” tandasnya.

Wahyu mengakui, dari tahun 2000 sampai 2004, jarang ada kasus TKI asal NTT di shelter KBRI Singapura dan Kuala Lumpur.

“Namun, sejak tahun 2005 hingga sekarang, korban asal NTT menempati jumlah terbesar di shelter KBRI Singapura dan Kuala Lumpur,” lanjut sambil mengakhiri pembicaraan. (TIN/Floresa)

Advertisement

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini