“Belis Tinggi Seperti Menjual Saya!”

2
1182
Ilustrasi

uangFloresa.co – Persoalan nilai belis yang tinggi, ternyata tidak hanya menjadi kerisauan kaum lelaki Manggarai. Kaum perempuan pun ada yang tidak setuju dengan hal tersebut.

Ima, mahasiswi asal Manggarai yang kuliah di Surabaya, mengatakan, belis tinggi sama saja dengan merendahkan martabat permepuan.

“Seperti menjual saya saja, terus nanti kalau sudah berkeluarga, saya lagi yang ikut membayar,”ujar Ima.

Seorang mahasiswi asal Manggarai lainnya yang kuliah di Jakarta, tapi tak mau disebutkan namanya, memiliki pandangan yang keras terhadap belis tinggi.

“Belis tinggi itu seperti trafficking  secara halus, dalam balutan adat,”ujarnya.

Namun, di mata sebagian perempuan lain, belis tinggi bukan jadi soal, bahkan wajar.

“Belis tinggi itu kan bentuk penghargaan terhadap perempuan, apalagi perawat kayak kami,” kata Any, mahasiswi Sekolah Tinggi Kesehatan Swasta di Jakarta.

Nelti, mahasiswi asal Manggari yang kini kuliah di sebuah perguruan tinggi di Surabaya mengamini pendapat Any.

“Setuju belis tinggi, karena belis merupakan bentuk penghargaan terhadap perempuan. Kalaupun calonnya nanti tidak mampu, akan diberi pengertian, tidak dibayar semua” kata Nelti.

Belis adalah sebuah praktik budaya dalam sistem perkawainan orang Manggarai. Seorang laki-laki yang hendak mempersunting seorang perempuan Manggarai diwajibkan membayar mahar yang biasa disebut “paca”.

Tak ada catatan tertulis sejak kapan kebiasaan ini dimulai. Tetapi Guru Besar Sosiologi Universitas Indonesia (UI), Robert M.Z Lawang mengatakan, tradisi ini bermula dari wabah penyakit cacar  yang melanda Manggarai pada era 1930-an.

Penyakit ini, kala itu, tergolong penyakit mematikan. Setiap hari, kata Robert, banyak korban berjatuhan. Sampai-sampai, orang tidak mau menguburkan jenazah karena takut tertular.

Populasi orang Manggarai saat itu, kata dia, menurun drastis. Dalam situasi seperti ini, perempuan dianggap sebagai benih (ni’i) berharga yang bisa melanjutkan dan mempertahankan keberadaan keluarga (wa’u).

Ya, perempuan memang benih berharga. Tapi tanpa peran laki-laki, benih itu juga tak akan beranak pinak. Karena itu, sebaiknya, kewajiban belis tidak justru membebani kedua mempelai yang hendak membangun bahtera rumah tangga.

“Artinya lihat dulu kemampuan calon, tetapi sebenaranya uang belis yang tinggi itu diberikan kepada keluarga baru sebagai modal untuk membangun bahtera rumah tangganya,”komentar seorang perempuan Mangarai yang namanya minta tak disebutkan. (ARS/Floresa)

Advertisement
BAGIKAN

2 Komentar

  1. Belis itu tradisi/budaya. Kan tidak mesti harus memaksa bayar smua. klo memaksa bru itu nama penyiksaan bukan saja kepada Pihak klrga laki2 pun juga pada pihak wanita. Kan ujung2nya pasangan itu sendiri nantinya yang bayar…

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini