Artikel yang Menyebut Gereja Bisu Memicu Perdebatan

6
1248

 

Floresa.co – Salah satu artikel opini di media ini yang menyebut Gereja bisu berhadapan dengan kasus perdagangan manusia (human trafficking), khususnya di NTT memantik perdebatan.

Artikel itu berjudul “Umat Terus Dijual, Gereja Terus Bisu” yang ditulis Eras Baum OFM menyoroti fakta diamnya Gereja pada persoalan sosial politik, termasuk perdagangan manusia.

Dalam uraiannya, ia menyatakan Gereja perlu segera mengambil langkah konkret, termasuk dengan menggelar sinode yang membahas khusus masalah perdagangan manusia.

Eras juga mengkritik pola pastoral Gereja yang ia sebut hanya fokus pada urusan ritual, tetapi lupa dengan masalah-masalah yang mendera umat.

“Cukup sudah, membiarkan Gereja terus nyaman dengan sikap bisu. Padahal hari demi hari, umat terus dijual. Bukankah mereka-mereka itu adalah bagian dari umat Allah, yang sejatinya mendapat perhatian dari Gereja” tulis Eras, calon imam Fransiskan asal Manggarai Timur ini.

Artikel ini yang terbit pada Kamis lalu memicu beragam tanggapan, baik dari kalangan para imam maupun awam. Sebagian tanggapan itu muncul dalam kolom komentar di bawah artikel Eras.

Pastor Erik Ratu Pr, imam Keuskupan Ruteng mempertanyakan bukti yang meyakinkan dari klaim Eras, bahwa selama ini Gereja terus bisu. Imam yang mengaku pernah berpartisipasi  dalam liputan  tentang Agen Pastoral Pemerhati TKI di Keuskupan Ruteng ini mengungkapkan, riset penting untuk kemudian berani mengatakan Gereja bisu.

Lain lagi tanggapan Pastor Even Tengko, juga imam Keuskupan  Ruteng. “Satu pertanyaan yang lupa bro masukan di tulisan bro e, ‘apa yang sudah saya buat?’ Ini penting biar tidak hanya hadir sebagai hakim bagi yang lain. Apalagi kalo bro cuma ‘menggonggong’ dari jauh,” tulisnya.

Sementara Yon Wiryono SVD, calon imam biarawan Serikat Sabda Allah (SVD) mengatakan, Gereja di Flores sudah berperan, meski tidak semua eleman ikut di dalamnya.

“Beberapa kali saya terlibat di Tim Relawan untuk Kemanusiaan Flores (TRUK-F) dan saya tahu betul perjuangan mereka dalam penyelesaian banyak kasus human trafficking, bahkan melalui jalur hukum. Tapi, perjuangan ini belum menjadi perjuangaan dan gerakan bersama,” katanya kepada Floresa.co.

“Sekarang TRUK-F sudah dan sedang memperluas jaringan melalui jalur desa di Kabupaten Sikka untuk sosialisasi penyadaran dan penanggulangan human trafficking, juga soal masalah-masalah lain seputar kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), “ lanjut Yon.

Benny Denar, calon Imam Keuskupan Ruteng memberi informasi, dalam salam satu sinode Keuskupan Ruteng, kasus human trafficking dan Tenaga Kerja Wanita (TKW) menjadi salah satu tema yang dibahas.

Benny melanjutkan, sinode ini telah menghasilkan program terkait masalah ini, seperti sosialisasi kepada masyarakat agar tidak percaya kepada para calo yang menawarkan gaji tinggi, membantu korban, dan membantu organisasi khusus untuk membantu istri-istri pekerja migran yang suaminya ditipu di luar negeri.

“JPIC Keuskupan Ruteng juga tangani kasus korban trafficking  sudah sejak lama,” tegas Beny.

Meski demikian, sejumlah pihak menanggapi artikel ini sebagai kritik konstruktif.

Pastor Gabriel Adur SVD, imam yang berkarya di salah satu paroki di Jerman, menyatakan, tulisan Eras mesti dilihat sebagai bentuk provokasi konstruktif untuk membenahi keberpihakan Gereja pada persoalan ini.

Sambutan postif juga disampaikan Ferdy Jalu, pemuda asal Manggarai yang tinggal di Jakarta.

“Tulisan ini lebih untuk menggerakan yang masih bisu dan berbuat maksimal bagi yang sudah berbuat”, katanya.

Senada dengan Jalu, Felix Janggu, wartawan yang berbasis di Maumere menyatakan, seharusnya pemikiran Eras tidak dijawab dengan mengajukan pertanyaan tentang apa yang sudah ia buat.

Suara dan kekuasaan memiliki dorongan terjadinya suatu perubahan, ketika saya seorang awam ditanyai telah berbuat apa karena saya mengkritik pemimpin gereja, apakah itu jawaban yang bijak utk suara orang2 kecil?”, tulisnya.

Ia menambahkan, “Bagi saudara saya Frater Eras, ruang tidak membatasi anda untuk berkarya, suara kenabianmu teruslah bergema, meski suara anda seperti sebuah teriakan di tengah hutan belantara, tak seorang pun akan mendengarmu,…..” (ARS/Floresa)

Advertisement
BAGIKAN

6 Komentar

  1. Terima kasih Eras. Gereja mesti terus disentil untuk "Melampaui Ritus". Yah, bukan cuma terkait human trafficking. Ada banyak hal.

  2. Salut buat yang menanggapi tulisan Frater Eras secara positif. Biar hidup Gereja makin hidup. Lanjutkan…buat semau yang sedang berpikir, mengkritisi dan yang berbuat 🙂

  3. saya pikir tulisan Eras, spt kata kraeng Ferdy Jalu, selain untuk membenahi keberpihakan Gereja pada orang-orang kecil dan yang terpinggirkan. Option for the poor. ( Kami di sini, mengadvokasi langsung kaum migran dari Afrika, juga buat pendampingan. Bahkan ada teman-teman/ biarawan-biarawati di kota Muenchen yang memasak dan memberikan mereka ruang utk hdp. Di Parokiku kami memiliki, kaum migran sebanyak 75 Keluarga). Gereja NTT dan Indonesia sudah banyak berbuat. Bukan tidak peduli. Situasi Tidur mungkin saja ada. Juga dalam situasi tertentu ada kebisuan yang dipertanyakan. Diam dalam hal ini bukan emas atau perak. Diam dalam hal ini tidak akan membuat persoalan selesai. Diam bukan Ritus ( bdk, melampaui Ritus, kata pater Avent Saur) gereja yang berpihak pada orang kecil. Kalau Gereja NTT tidak mau dibilang diam, mari kita berbuat lebih dari apa yang telah perbuat sambil merefleksi kembali apa yang sudah kita buat.

  4. Wow tulisan Eras inspiratif. Banyak tenaga kerja asal NTT tergiur dg gaji tinggi. padahal gaji tinggi itu juga dibarengi biaya hdp tinggi. Minus malum

  5. Perlu disadari bahwa salah satu tugas utama dari Gereja adalah bersuara (lebih kepada sikap mengkritisi dan menggerakan). Imam berkotbah untuk mengkritisi dan menggerakan umatnya. Artinya, suara kritis merupakan hal yang menyatu dengan kehidupan gereja, entah dia bersikap kritis atau dikritis. Kalau gereja (imam) biasa mengkritisi umatnya untuk bergerak ke arah yang lebih baik, maka ketika ada kritikan terhadap gereja atau imam perlu diterima sebagai bentuk dialektika perubahan ke arah yang lebih baik. Gereja diminta untuk terus bersikap kritis, asalkan bebas dari mammon.

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini