Umat Terus Dijual, Gereja Terus Bisu

21
3214

 

Oleh: ERAS BAUM OFM, Calon Imam Fransiskan Asal Manggarai Timur

Barangkali para teolog memang tidak dilatih untuk berbicara kepada para mamon baru itu, selain untuk meminta  dana bagi pembangunan gereja! (George Junus Aditjondro)

Saya tidak sedang menciutkan makna ketika memotong dengan sewenang-wenang tulisanpanjang Aditjondro sebagaimana ada dalam buku “Gereja, Korupsi dan Sepinya Suara Menentang Pelanggaran HAM: An Unholy Trinity(Aditjondro, 2008: 203). Sebab memang, begitu sudah maknanya: masih jarang sekali para pemimpin gereja dan lembaga-lembaga Kristen di Indonesia yang bersuara tentang aneka hal yang berkaitan dengan pelanggaran hak sipil dan politik, hak-hak ekonomi, sosial dan budaya. Singkatnya, tentang HAM.

Tentu saja, Aditjondro tidak lupa pada revolusi banyak rohaniwan dan pemimpin Gereja, entah di Indonesia atau terutama, di Amerika Latin yang sangat kritis terhadap fenomen perselingkuhan antara Gereja dan negara.

Itu juga tidak berarti bahwa cendekiawan Kristiani (Gereja: Umat Allah) jarang bersuara membela HAM penduduk nusantara. Memang ada, Tapi, kebanyakan mereka tidak berbasis di organisasi-organisasi berbendera Kristiani. Mereka umumnya berbicara di panggung organisasi-organisasi pembela HAM yang tidak berbendera agama (Aditjondro, 2008: 214).

Brigadir Polisi Rudy Soik, Anggota Resrse Polda NTT hari-hari ini menjadi salah satu contoh sangat baik untuk itu! Dia – seorang Protestan – adalah umat Allah yang baik: bersuara untuk kaum tak bersuara. Ia sedang menjalankan tugasnya sebagai nabi, dan menurut saya, pas disebut salah satu bentuk tindakan kenabian masa kini.

Tapi, apa kabar bagi orang-orang yang menyerahkan janji di altar? Juga yang bernazar secara khusus pada Allah, manusia dan dunia untuk menghadirkan Kerajaan Allah di bumi ini?

Apakah mereka bersuara dan menentang masalah dagang manusia yang sudah lama terjadi di NTT? Apa saja yang dikotbahkan dan didoakan waktu perayaan Hari Minggu? Apa saja yang dilakukan saat katekese? Jangan-jangan doa, kotbah dan katekese hanya berkutat soal berlutut  saat ibadah, masih tentang perarakan patung Bunda Maria dan Sakramen Maha Kudus keliling wilayah keuskupan,  masih tentang kekudusan pribadi. Dan lupa berdoa dan berkotbah tentang sawah, kebun,  cara menghasilkan ‘mata air’, lawan tambang, apalagi Misa di sawah dan kebun. Yah, lupa dengan mengusahakan kekudusan sosial-ekologis!

Fakta bahwa Gejala tidak terlalu peduli pada soal-soal sosial, pada ‘mengusahakan kekudusan sosial-ekologis’ memang bukan gejala yang sama sekali baru. Hal ini sudah menjadi semacam bagian dari identitas banyak pemimpin dan anggota Gereja, yang ikut membentuk cara berpikir awam pula.

Akibatnya tidak jarang kalau ada pastor atau biarawan-biarawati terlibat pada masalah-masalah sosial-politik, orang dengan mudah berkomentar, “Para rohaniwan (biarawan/ti) ini kurang kerjaan” atau, “Masalah-masalah sosial itu yah urusan kami-kami ini (awam)”. (Kalau tidak percaya, ingat-ingat lagi komentar beberapa orang waktu Gereja Keuskupan Ruteng melakukan demonstrasi besar-besaran menolak kehadiran tambang di Manggarai Raya.)

Tepatnya: sejarah Gereja Katolik (sekurang-kurangnya) menunjukkan bahwa untuk waktu yang sangat lama, Kekristenan (Katolik) memusatkan perhatiannya pada ‘mengusahakan keselamatan jiwa’. Caranya: doa, ikuti perayaan ekaristi,sembah Sakramen Mahakudus, mengaku dosa, doa lagi, begitu terus dan berputar-putar pada soal-soal itu saja.

Lalu, ‘badan’ dilupakan, diabaikan, bahkan dibenci sebab dianggap sebagai ‘penjara bagi jiwa’. Efeknya, orang lupa bahwa keselamatan juga berkaitan dengan raga, badan, materi. Lupa pada hiruk-pikuk dunia, lupa pada soal-soal hajat hidup orang banyak, makanan, sawah, kebun, termasuk hak sipil dan politik, HAM, hak-hak ekonomi, sosial dan budaya. Juga, sisa-sisanya, barangkali, lupa peduli pada masalah dagang manusia.

Sampai pada satu waktu Gereja (banyak pemimpin dan Umat Allah) bertekad dan bertobat. Mereka menganggap bahwa kekudusan dan keselamatan tidak melulu soal jiwa, tidak melulu soal pribadi tetapi menyangkut juga badan dan hidup sosial-ekologis. Sebab mereka yakin bahwa keselamatan yang tidak menghasilkan perubahan-perubahan ragawi, perubahan-perubahan padasturuktur sosial–politik yang menindas, berarti keselamatan itu tidak ada.

Dan mereka sangat yakin bahwa keselamatan itu juga masuk dan harus masuk ke dalam konflik-konflik perbudakan, bentuk-bentuk penindasan, kapitalisme, dan semua rezim korup dan eksploitatif yang sedang berlangsung, sekarang di dunia ini. Tanda mula-mula kehadiran Allah dan keselamatan-Nya itu ialah konflik aktual bahkan terbuka dengan rezim-rezim yang demikian itu.

Maka, tidak ada lagi alasan bagi Gereja untuk diam di hadapan berbagai macam bentuk ketidak-adilan entah sosial, politis dan ekologis.

Untuk kasus  dagang manusia yang sekarang menjadikan NTT juara satu, kiranya bisa menggerakan gereja untuk sesegera mungkin mengambil tindakan. Tidak saja berupaya semaksimal mungkin membantu penyelesaian kasus-kasus yang sekarang masih ada, tetapi, lebih dari itu melakukan upaya preventif agar tidak ada lagi perempuan dan anak-anak yang karena faktor kemiskinan dan ketidaktahuan jadi korban di hari-hari mendatang.

Di NTT, Gereja masih sangat dikenal berwibawa. Lantas, seruan para uskup, dan lebih baik lagi, bila diadakan sinode khusus soal isu ini, sangatlah mendesak. Cukup sudah, membiarkan Gereja terus nyaman dengan sikap bisu. Padahal hari demi hari, umat terus dijual. Bukankah mereka-mereka itu adalah bagian dari umat Allah, yang sejatinya mendapat perhatian dari Gereja.

Advertisement
BAGIKAN

21 Komentar

  1. Apakah penulis sudah menelusuri dengan bukti yang meyakinkan, bahwa umat terjual dan gereja terus bisu? Saya pernah ikut dalam liputan tentang kerja para agen pastoral pemerhati TKI di Keuskupan Ruteng. Dan seperti biasa, untuk sebuah karya jurnalistik, kami melakukan riset terlbih dahulu hal-hal terkait. Dari pengalaman itu, saya tidak berani/ tidak mengatakan gereja bisu.

  2. Stu pertanyaan yg lupa bro msukan di tulisan bro e, "apa yg sdh sya buat?"
    Ini ptg biar tdk hnya hdir sbgai hakim bgi yg lain. Apalgi klo bro cma "menggonggong" dri jauh…hehe

  3. Saya selalu mengambil ilustrasi ini sebagai gambaran tentang kekuatan pikiran jika itu adalah suara dan teriakan..ketika anda melihat rumah tetangga terbakar, pilihannya anda berlari dan mengetok pintu membangunkan orang, atau jika tidak sempat berlari anda bisa berteriak, mungkin orang di dalam rumah bisa mendengar suara anda, atau mgkin ada upaya lain, anda menelepon pemadam kebakaran, mereka datang menolong… apakah anda yang berteriak sama dengan tidak melakukan apa-apa? Suara dan kekuasaan memiliki dorongan terjadinya suatu perubahan, ketika saya seorang awam ditanyai telah berbuat apa karena saya mengkritik pemimpin gereja, apakah itu jawaban yang bijak utk suara orang2 kecil? Pikiran penulis bagi saya adalah seruan, betapa pun suara itu agak keras…karena suara dari otoritas gereja, saya menyebutnya suara yang berkuasa krn memiliki dorongan perubahan, urgen untuk situasi sekarang….Bagi saudara saya Frater Eras, ruang tidak membatasi anda untuk berkarya, suara kenabianmu teruslah bergema, meski suara anda seperti sebuah teriakan di tengah hutan belantara, tak seorang pun akan mendengarmu,…..

  4. Ini seruan supaya yang bisu bisa berbuat. Bagi yang sudah berbuat lebih maksimal lagi untuk berbuat. Orang yang bisu dengan perkataan ini pasti tersinggung, dan orang yang berbuat ini merupakan hal yang penting untuk berbuat lagi.

  5. Terima kasih Eras. Gereja mesti terus disentil untuk "Melampaui Ritus". Yah, bukan cuma terkait human trafficking. Ada banyak hal.

  6. Profisiat Sdr Eras Baum OFM, perubahan selalu dimulai dengan kritik, bahkan konflik…

  7. Sungguh! ini kritikan yang sangat konstruktif dan inspiratif. Seruan profetis ini, saya yakin berangkat dari sebuah keprihatinan akan tanah kelahirannya. Proficiat Sdr. Eras, OFM, “gonggongan”-mu sarat makna! lanjutkan….

  8. Kata2 tajam Sdr. Eras sangat kami maklumi.
    Banyak sodara/i (TKI/TKW ilegal) dari NTT yg ‘tersesat’ dan ‘terlantar’. Mereka dikejar-kejar mafia TKI. Mereka lari ke Gereja2 Katolik di Metropolitan ini. Kemudian, GEreja selalu merekomendasikan mereka utk meminta pertolongan di gubuk2 kecil para fransiskan.
    Jika lihat sendiri, dgn mata dan kepala sendirii,,keadaan mereka sangat sadis n memprihatinkan!
    Mereka akhirnya dibantu sebisanya oleh org2 seperti Sdr. Eras ini. LAntas, bukankah tulisan bernada kritik beliau ini patut kita ambil maknanya? Utk NTT yg lebih manusiawi dan bermartabat?
    Jika tulisan ini salah, dan cenderung sinis, apa yg harus beliau ini buat (lagi) di tanah orang dan tanah asing ini? TAbe..

  9. "Umat terus dijual, Gereja siap berbenah (bergegas)", kiranya ini judul "umpan balik" menyikapi seruan profetis Sdr. Eras, OFM di atas. Opsi Keberpihakan, hemat saya dapat ditunjukkan melalui pelbagai cara selagi itu masih layak dipentaskan di gelanggang demokrasi. Voice is Money, karena itu dia berharga. Sdr. Eras boleh dibilang sedang bersuara atau bahkan tengah berteriak demi sebuah kebenaran. Suaranya keras dan tentu berharga untuk dijadikan pengingat bak suara ayam jantan di pagi hari yang hendak membangunkan kita dari tidur (dogmatis, ritualis, formalisme, dslbgx)..Bro Eras, OFM Gereja membutuhkan suaramu yang berharga ini! Shalom

  10. Kalau tulisan ini dibaca dengan kacamata positif, saudara-saudara yang telah berjuang melawan human trafficking mestinya tidak perlu tersinggung, tetapi justru senang & merasa dikuatkan karena masih ada orang muda yang peduli untuk menentang perdagangan manusia. Tapi, kalau tersinggung membaca tulisan ini, saya ragu jangan-jangan perjuangan saudara hanya untuk mendapatkan pengakuan, penghormatan, atau perhargaan terhadap diri sendiri, sehingga ketika berhadapan dengan kenyataan sebaliknya (dikritik) lantas merasa memiliki hak untuk tersinggung, emosi, dan marah-marah.
    Proficiat saudara Eras, tetap semangat dalam perjuanganmu. GBU.

  11. https://www.youtube.com/watch?v=oyv-IGkuANM

    rekaman dari internet ini ibarat gunung es atau juga bisul…sebagian kecil yang terlihat di permukaan.. Di bawah permukaan dan tidak diketahui media (tetapi oleh beberapa pihak diketahui)……menyedihkan sekali bukan? Menurut saya sederhana sekali mengapa Sdr. Eras menulis dengan tendensi yang”mengkritik tapi membangun” bagi gereja Katolik di NTT. Pertama, alirah sindikat itu ternyata mengalir ke arah wilayah Jakarta dan sumatra, yang menjadi tempat beliau menetap. Data-data mengenai trafficking ini dapat diperoleh karena banyak jaringan lsm Kedua, karena di NTT Gereja memiliki posisi yang sangat sentral bagi umatnya. Tentu ada harapan agar Gereja memberi perhatian (suara profetis) karena Gereja secara historis sudah jauh lebih tua usianya di Flores ketimbang NKRI (keterikatan batin secra historis)…

  12. Tulisan di atas, sangat menarik untuk kita renungkan bersama. Politikus plus Pemerintah (di NTT) seakan berseberangan dengan Gereja yang turut mengambil peran untuk meningkatkan kualitas hidup umat dan kepedulian terhadap kehidupan umat. Seakan peran Gereja hanya seputar Altar Suci sedangkan urusan duniawi adalah urusannya Pemerintah dan Politikus.
    Menjalankan roda pemerintahan dan berpolitik tanpa dasar iman, tentu akan menghasilkan kualitas yang tidak maksimal, banyak Korupsi, saling menjatuhkan dan menghalalkan segala cara termasuk menjual umat untuk kepentingan kantong pribadi.

  13. Tulisan sdr. Eras memiliki daya gigit tersendiri. Tulisan tersebut ampuh memecahkan batok ironi yang selama ini mencengkam tubuh Gereja NTT. Sudah menjadi rahasia umum bahwa Gereja NTT terkesan “sepi dan sunyi” dari perkara-perkara “badan”. Kita realistis saja. Kalau misalnya ditanya, sejauh mana Gereja NTT ‘concern’ dengan masalah-masalah aktual umat (seperti kemiskinan, ketidakadilan sosial, human trafficing,dll)? Jawabannya, ya…paling “sepanjang dan selebar altar dan mimbar sabda”. Kesaksian Gereja NTT masih berkutat pada “wacana”. Ironis bukan? Persoalan aktual umat yang sebenarnya membutuhkan tindakan dan solusi nyata, malah ditanggapi Gereja hanya dengan “berwacana”, dalam kotbah di mimbar sabda misalnya. Kebutuhan jiwa umat diutamakan, tetapi kok kebutuhan badannya malah dinafikan? Gi mana tuh? Aduh, sakitnya tuh di sini (di hati umat)!Di situlah letak relevansi dan “jitunya” kritikan sdr. Eras. Sekali lagi, sungguh sebuah kritikan yang mengigigit! Gereja NTT perlu disadarkan dengan tamparan seperti ini. Tetapi, kalau responnya hanya dengan tersinggung, marah-marah, itu artinya kita belum dewasa dalam menyikapi setiap ikhtiar dan kritik untuk sebuah perubahan. Bagaimana Gereja NTT bisa mencapai perubahan kalau sikapnya kekanak-kanakan seperti itu? Atau jangan-jangan, Gereja NTT justru ingin menjadi “jongos” yang jauh dari kehidupan real umat? Saatnya Gereja NTT berbenah. Kritikan harus dilihat dari perspektif posotif! Proficiat sdr. Eras, Gereja NTT perlu dilecut dengan taring kritikan seperti itu.

  14. Salam persaudaraan untuk saudara penulis artikel ini.
    Saya sangat berbahagia, menyadari bahwa ternyata masih ada begitu banyak orang yang peduli terhadap situasi masyarakat Nusa Tenggara Timur. Peduli terhadap pelbagai persoalan krusial yang terjadi di wilayah kita. Benar, bahwa sikap kritis sangat perlu dibangun untuk terus membenturkan ide dengan ide, juga ide dengan realitas sosial yang ada. Dengan harapan bahwa kebenaran yang sejati kemudian diperoleh.
    Namun sangat perlu untuk direnungkan, bagi semua saja yang memiliki keprihatinan dan sikap kritis terhadap segala sesuatu, agar tidak terjebak dengan fenomena sikap kritis yang keliru. Bahwa sikap kritis yang kita bangun malah terperangkap pada sebuah sensasi berwacana belaka. Sensasi kenikmatan yang lahir dari menyuarakan sesuatu atau menjadi seseorang di balik layar, tokoh penting yang terus memainkan isu. Kita terus saja bersuara tanpa sedikitpun usaha untuk mengkonkretkan kritik yang kita bangun. Benar bahwa kritik merupakan salah satu bentuk keterlibatan. Benar pula bahwa melalui kritik kita berusaha mencapai apa yang sejatinya baik dan benar. Tetapi akan menjadi keliru ketika dalam argumentasi kritik yang kita bangun, terdapat kecendrungan untuk merasa sebagai satu-satunya sumber kebenaran, tanpa klarifikasi jelas dari pihak yang kita kritisi. Yang kemudian terjadi ialah kita bukannya menjadi pencerah, melainkan berakhir sebagai pihak yang menambah gelapanya sebuah masalah. Maka sangat penting bagi kita untuk terlebih dahulu memahami dan mengenal “medan masalah”, menggali secara jelas inti masalah, bila perlu menggunakan metode penelitian ilmiah dalam upaya mencari kebenaran itu. Sehingga kemudian kita tidak serta merta membebankan tanggung jawab, bahkan kesalahan terhadap sikap dari pihak tertentu, tanpa kepastian kebenaran.
    Semoga melalui saling sumbang gagas antara kita, pemahaman kita semakin diperkaya dan kebenaran sejati akhirnya kita peroleh, bukan malah penyesatan sejati. Terima Kasih, Salam Persaudaraan.

  15. Salam persaudaraan untuk saudara penulis artikel ini.
    Saya sangat berbahagia, menyadari bahwa ternyata masih ada begitu banyak orang yang peduli terhadap situasi masyarakat Nusa Tenggara Timur. Peduli terhadap pelbagai persoalan krusial yang terjadi di wilayah kita. Benar, bahwa sikap kritis sangat perlu dibangun untuk terus membenturkan ide dengan ide, juga ide dengan realitas sosial yang ada. Dengan harapan bahwa kebenaran yang sejati kemudian diperoleh.
    Namun sangat perlu untuk direnungkan, bagi semua saja yang memiliki keprihatinan dan sikap kritis terhadap segala sesuatu, agar tidak terjebak dengan fenomena sikap kritis yang keliru. Bahwa sikap kritis yang kita bangun malah terperangkap pada sebuah sensasi berwacana belaka. Sensasi kenikmatan yang lahir dari menyuarakan sesuatu atau menjadi seseorang di balik layar, tokoh penting yang terus memainkan isu. Kita terus saja bersuara tanpa sedikitpun usaha untuk mengkonkretkan kritik yang kita bangun. Benar bahwa kritik merupakan salah satu bentuk keterlibatan. Benar pula bahwa melalui kritik kita berusaha mencapai apa yang sejatinya baik dan benar. Tetapi akan menjadi keliru ketika dalam argumentasi kritik yang kita bangun, terdapat kecendrungan untuk merasa sebagai satu-satunya sumber kebenaran, tanpa klarifikasi jelas dari pihak yang kita kritisi. Yang kemudian terjadi ialah kita bukannya menjadi pencerah, melainkan berakhir sebagai pihak yang menambah gelapanya sebuah masalah. Maka sangat penting bagi kita untuk terlebih dahulu memahami dan mengenal “medan masalah”, menggali secara jelas inti masalah, bila perlu menggunakan metode penelitian ilmiah dalam upaya mencari kebenaran itu. Sehingga kemudian kita tidak serta merta membebankan tanggung jawab, bahkan kesalahan terhadap sikap dari pihak tertentu tanpa kepastian kebenaran.
    Semoga melalui saling sumbang gagas antara kita, pemahaman kita semakin diperkaya dan kebenaran sejati akhirnya kita peroleh, bukan malah penyesatan sejati. Terima Kasih, Salam Persaudaraan untuk kita semua.

  16. Terim kasih teman Eras tulisan di atas sangat menarik untuk direnungkan dan ditindaklanjuti, (bukan cuma gereja tenntunya), tetapi saya sepakat jika kita sangat menaruh perhatian kepada gereja untuk ikut menyuarakan masalah perdagangan manusia ini (Orang-orang sdang menunggu itu). Tetapi saya agak janggal melihat hal ini (sikap gereja yang membisu (hirarki tentunya). Gereja mengambil sikap diam, karena gereja (hirarki) merasa tidak ada nilai keuntungan pribadi yang akan didapat dari sana (nilai ekonomi). Nilai kerasulan dari gereja (hirarki) pada akir-akhir ini menjadi hal yang sangat langka untuk didapat. Gereja lebih senang menjadi rentenir, telibat dalam urusan politik yang adalah sifat dan muatan dasarnya kotor. Gereja yang sekarang ini tidak lebih dari tempat berkumpul yang mungkin juga karena terpaksa, terpaksa karena telah menjadi warga gereja. Tetai sifat gereja sebagai tauladan dan pejuang untuk masalah sosial menjadi agak susah untuk didapat. Perilaku para pemimpin gereja malah telah menjadi trending topic di kalangan masayarakat yang dalam pemahaman gereja disebut umat. Hal ini mengindikasikan bahwa gereja seolah kehilangan Roh sifat aslinya. Sungguh menjadi hal yang sangat disesali. Saya percaya bahwa orang – orang yang seperti teman eras masih ada di tubuh gereja, saya percaya Tuang Aven Saur masih bisa menjadi pelita baru dikalangan gereja untuk menyuarakan suara – suara yang tidak terdengar dan sering terabaikan. Semoga. Maaf coretan ini agak keras, (ekspresi kekesalan). Tabe.

  17. teman sy namax pondik blang ‘ iman jaman skrang itu skemax melihat lalu percaya…bukan mendengar lalu percaya ‘ boleh percaya boleh tak. .tpi itulah pondik…

  18. Pandangan yg amat mencerahkan.

    Konsep iman di kalangan awam tak terlepas dari praktik yg dilakukan para pemimpin Gereja. Kalo iman dipandang sbg skadar doa atau misa pada hari Minggu, kalo sentuhan pemimpin terhadap umat hanya secara massal di gereja (sbg gedung) dan bukan Gereja sbg “umat Allah” spt dlm Konsili Vatikan II di mana perlu ada sentuhan personal terhadap mereka yg hidup di rumah2, kolong2 jembatan, kebun2 dg aneka permasalahannya, maka Gereja bukan lagi menyelamatkan.

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini