Ternyata, Belis di Manggarai Muncul Setelah Ada Wabah Penyakit Cacar

6
1795

manggaraiFloresa.co – Belis sudah menjadi bagian dari tradisi masyarakat Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Dalam perkembangannya, kini, belis yang dalam Bahasa Manggarai disebut “paca” semakin dirasa menjadi beban terutama oleh pihak laki-laki.

Tapi tahukan Anda asal muasal belis di Manggarai? Dalam wawancara dengan Floresa.co baru-baru ini,

Guru Besar Sosiologi Universitas Indonesia (UI), Robert M.Z Lawang mengatakan, tradisi ini bermula dari wabah penyakit cacar  yang melanda Manggarai pada era 1930-an.

Penyakit ini, kala itu, tergolong penyakit mematikan. Setiap hari, kata Robert, banyak korban berjatuhan. Sampai-sampai, orang tidak mau menguburkan jenazah karena takut tertular.

Populasi orang Manggarai saat itu, kata dia, menurun drastis. Dalam situasi seperti ini, perempuan dianggap sebagai benih (ni’i) berharga yang bisa melanjutkan dan mempertahankan keberadaan keluarga (wa’u).

Karena orang Manggarai tidak memperkenankan perkawinan sedarah atau sesama wa’u, maka dibutuhkan perempuan dari wa’u lain untuk mempertahankan eksistensi keluarga.

Dalam konteks ini, menurut  guru besar yang juga berasal dari Manggarai ini, belis merupakan bentuk penghargaan terhadap keluarga perempuan.

Soal tingginya rendahnya belis, menurut Robert, zaman dulu tergantung status sosial seseorang atau keluarga. Dulu, menurutnya, status kebangsawanan menjadi faktor yang menentukan tingginya belis seorang perempuan.

Pola yang sama pun terjadi sekarang, meski faktor penentunya adalah jabatan, tingkat ekonomi dan pendidikan.

“Sebetulnya, kadang-kadang, belisnya tinggi, tapi sebenarnya sekadar pengumuman ke orang kalau belisnya tinggi. Padahal, tidak dibayar semua itu”, katanya.

Ia menambahkan, “Ini sebuah mekanisme untuk mempertahankan ikatan antara anak wina (keluarga pihak laki0laki) dan anak rona (keluarga pihak perempuan). Karena itu, ada istilah, sida ke anak wina dan ngende ke anak rona. Kalau dibayar penuh, orang rasa ngeri itu.”

Nah, sekarang, bagaimana Anda memaknai belis dalam konteks kekinian? (ARS/Floresa)

Advertisement
BAGIKAN

6 Komentar

  1. sy juga baru tahu..soal belis (Paca). Terimaksih…semoga tidak menyesatkan sejarah Manggarai. Karena sy juga sering ditanya oleh teman2 khususnya org jawa berkaitan dg belis itu.

  2. Bagaimana pun ini adalah tradisi orang Manggarai. Tetap dijaga dan lestarikan. Jika dilihat dr sudut pandang bisnis, maka paca dinilai sebagai proses jual beli karena ada tawar menawar antara kedua belah pihak (woe dan anak rona).Namun, paca sebagai bentuk penghargaan terhadap perempuan dan keluarga perempuan. Toh pacanya tdk harus 'lunas',
    TABE

  3. Bukankah belis itu adalah media dan prosesi pengukuhan pada jaman animisme? Setahu saya masa pra-dinamisme manusia menjadikan belis sebagai upacara pernikahan yg bertujuan sebagai pengukuhan dan media bagi masyarakat bahwa kedua insan tersebut secara resmi sudah menjadi sepasang suami istri.Hanya di era dinamisme makna dari upacara belis ini telah digeser menjadi media transaksi sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan kita kepada orang tua mempelai wanita.Jadi pada intinya belis ini bukan lagi menjadi hal yg baru atau hal yg terjadi pasca era animisme.

  4. Maaf diralat “Jadi pada intinya belis ini bukan lagi menjadi hal yg baru atau hal yg terjadi pasca era dinamisme”.

    Perbedaan maknanya sbb:
    Animisme:
    1.Belis sebagai pengukuhan.
    2.Belis sebagai media pengukuhan.
    Dinamisme:
    1.Belis hanya sebgai media transaksi yg bertujuan utk membuktikan penghormatan dan penghargaan serta ungkapan terima kasih kepada orang tua salah satu pihak (baik pihak wanita maupun pihak keluarga pria).

    Kesimpulannya: Diera animisme tanpa upacara belis kedua mempelai belum sah menjadi sepasang suami istri.
    sedangkan diera dinamisme pernikahan (agama) adalah satu-satunya media pengukuhan bagi sepasang suami istri entah itu zudah dibelis maupun belum dibelis.

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini