manggaraiFloresa.co – Belis sudah menjadi bagian dari tradisi masyarakat Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Dalam perkembangannya, kini, belis yang dalam Bahasa Manggarai disebut “paca” semakin dirasa menjadi beban terutama oleh pihak laki-laki.

Tapi tahukan Anda asal muasal belis di Manggarai? Dalam wawancara dengan Floresa.co baru-baru ini,

Guru Besar Sosiologi Universitas Indonesia (UI), Robert M.Z Lawang mengatakan, tradisi ini bermula dari wabah penyakit cacar  yang melanda Manggarai pada era 1930-an.

Penyakit ini, kala itu, tergolong penyakit mematikan. Setiap hari, kata Robert, banyak korban berjatuhan. Sampai-sampai, orang tidak mau menguburkan jenazah karena takut tertular.

Populasi orang Manggarai saat itu, kata dia, menurun drastis. Dalam situasi seperti ini, perempuan dianggap sebagai benih (ni’i) berharga yang bisa melanjutkan dan mempertahankan keberadaan keluarga (wa’u).

Karena orang Manggarai tidak memperkenankan perkawinan sedarah atau sesama wa’u, maka dibutuhkan perempuan dari wa’u lain untuk mempertahankan eksistensi keluarga.

Dalam konteks ini, menurut  guru besar yang juga berasal dari Manggarai ini, belis merupakan bentuk penghargaan terhadap keluarga perempuan.

Soal tingginya rendahnya belis, menurut Robert, zaman dulu tergantung status sosial seseorang atau keluarga. Dulu, menurutnya, status kebangsawanan menjadi faktor yang menentukan tingginya belis seorang perempuan.

Pola yang sama pun terjadi sekarang, meski faktor penentunya adalah jabatan, tingkat ekonomi dan pendidikan.

“Sebetulnya, kadang-kadang, belisnya tinggi, tapi sebenarnya sekadar pengumuman ke orang kalau belisnya tinggi. Padahal, tidak dibayar semua itu”, katanya.

Ia menambahkan, “Ini sebuah mekanisme untuk mempertahankan ikatan antara anak wina (keluarga pihak laki0laki) dan anak rona (keluarga pihak perempuan). Karena itu, ada istilah, sida ke anak wina dan ngende ke anak rona. Kalau dibayar penuh, orang rasa ngeri itu.”

Nah, sekarang, bagaimana Anda memaknai belis dalam konteks kekinian? (ARS/Floresa)