Motang Rua: Kisah Heroik Pahlawan Manggarai (1)

2
15810
Motang Rua, pahlawan asal Manggari, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT)
Motang Rua, pahlawan asal Manggari, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT)

Floresa.co – Nama Motang Rua, yang lahir tahun 1860, sudah tak asing lagi. Dia adalah salah satu pejuang yang menentang penjajahan Belanda atas tanah Manggarai-Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada awal abad ke-20.

Sebagai bagian dari peringatan Hari Pahlawan yang dirayakan setiap 10 November, Floresa.co, mengulas kisah perjuangan tokoh kelahiran Kampung Beokina, Desa Golo Langkok, Kecamatan Rahong Utara itu.

Kisah ini berdasarkan penuturan Wily Grasias, salah satu keluarga Motang Rua kepada Floresa.co.

Kisah perlawanan Motang Rua terhadap Belanda tak akan pernah terjadi bila pemerintah Kolonial Belanda tak pernah mendirikan pemerintahan sipil-militer di tanah Manggarai pada awal abad ke-20.

Pasukan Belanda tiba di Manggarai pada 1908. Mereka berlayar dari Ende dan mendarat di Borong. Kedatangan Belanda di kota kecil yang kini menjadi ibu kota Kabupaten Manggarai Timur ini, tidak mendapat perlawanan yang berarti. Memang ada sedikit gejolak antara utusan Belanda dari suku Ende dengan masyarakat setempat. Namun hal ini tidak sampai menimbulkan masalah yang berarti.

Dari Borong, Belanda kemudian melanjutkan perjalanan melalui pantai Laut Sawu menuju Todo, salah satu pusat kerjaaan yang terletak di pesisir selatan Manggarai. Belanda ingin mendirikan pusat Pemerintahan Sipil – Militer di Todo. Namun, karena topografi Todo yang berbukit-bukit, Belanda pun mencari tempat lain yang lebih cocok.

Sejumlah tempat pun dipilih yaitu Malawatar (Lembor), Cancar dan Puni (Ruteng). Dalam rencana, Belanda ingin meresmikan pemerintahan administratif daerah jajahan Manggarai pada 31 Juli 1909 bertepatan dengan Hari Raya Kerajaan Belanda.

Dari berbagai alternatif tempat yang dijadikan pusat pemerintahan itu, akhirnya, Puni (Ruteng) yang dipilih. Belanda pun mulai membangun rumah-rumah dan perkantoran. Namun, bukan Belanda sendiri yang membangun fasilitas pemerintahan itu, melainkan rakyat Manggarai.

Belanda memerintahkan rakyat Manggarai membawa alang-alang untuk atap dan bahan bangunan lainnya.

“Perlakuan semena-mena ini tidak diterima oleh Motang Rua, yang pada saat itu menjabat sebagai kepala kampung Beokina,”cerita Wily Grasias.

Motang Rua lalu mengkonsolidasi kekuatan. Sejumlah orang diajaknya untuk melakukan perlawanan, seperti Sesa Ame Bembang, Padang Ame Naga, Naga Ame Demong, Lapa Ame Sampu, Angko, Rumbang, Tengga Ame Gerong, Sadu Ame Mpaung (meninggal di pembuangan Sawa Lunto), Nompang Ame Tilek, dan Ulur.

Kekuatan dari sjeumlah kedaluan juga dihimpun seperti dari Kedaluan Lelak ada Paci Ame Rami, Nggarang Rombeng Rejeng, dan Dareng Ame Darung. Dari Kedaluan Ndoso ada Pakar Ame Jaga, Kedaluan Ndehes ada Raja Ame Kasang Ngampang Leok, Kedaluan Ruteng ada Nggorong Carep, Tanggu, Kelang Labe dan Wakul.

Dia juga mengajak adik dan kakanya sendiri yaitu Ranggung Lalong Elor, Parang Ame Panggung, Nggelong, Parung Jalagalu, Lancur Lalong Pongkor, Latu Lando Rata, Tangur, Nicik, Nggangga, Anggang Ame Geong, Nancung Laki Rani, Tagung, Dorok, Corok, Rede, Seneng, Talo, Hasa, dan Andor Jagu.

Kekuatan rakyat pun dikerahkan untuk mendirikan Benteng Kuwu serta memboikot rakyat lainnya yang berasal dari arah wilayah Lelak, Ndoso, Kolang dan Rahong agar tidak menghantar bahan bangunan serta makanan untuk kepentingan Belanda di Ruteng.

Alang-alang, ijuk,dan balok dipotong-potong baru kemudian dikirim ke Ruteng. Atas perlakuan itu, maka Belanda menyuruh kurir khusus bernama Japa Ame Iba.

Sesampai di Wae Kang, Japa Ame Iba memukul seorang rakyat yang bernama Unduk, pengantar alang-alang. Karena peristiwa pemukulan itu, maka Motang Rua membunuh utusan khusus itu. Serdadu Belanda pun gusar.

Belanda kemudian memanggil Dalu Pasa, Sesa Ame Bemban ke Puni (Ruteng) pada 31 Juli 1909. Melaui Dalu Pasa ini, Belanda memerintahkan agar Motang Rua menghadap Belanda.

Alih-alih menghadap, Motang Rua, malah menantang. “Kami tidak akan takluk kepada Belanda, sampai kami mati, dan tanah ini, tidak relah kami serahkan kepada orang nggera (kulit putih).” Kurang lebih seperti itulah tantang yang diberikan Motang Rua saat itu….bersambung  (PDB/Floresa)

Selanjutnya:

Bersambung ke: Motang Rua: Diserang Belanda Dengan Peralatan Modern (2)
Advertisement
BAGIKAN

2 Komentar

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini