Motang Rua: Ikut Perang Aceh, ke Saigon, Hingga Balik ke Manggarai (3)

14
5240
Motang Rua, pahlawan asal Manggari, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT)
Motang Rua, pahlawan asal Manggari, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT)

Sambungan dari: Motang Rua: Diserang Belanda dan Keputusan Menyerahkan Diri (2)

Floresa.co – Pengadilan Belanda di Makasar memutuskan Motang Rua dan adiknya Nancung Laki Rani alias Kraeng Bakok divonis dengan hukuman penjara selama 20 tahun di Batavia (Jakarta). Kemudian Motang Rua dan adiknya dipindahkan ke Sawa Lunto untuk dipekerjakan pada pertambangan Batu Bara milik Pemerintah Kolonial Belanda.

Saat itu, rakyat Aceh dibawah pimpinan Teuku Umar dan Cut Nya Din mulai melakukan perlawanan terhadap pemerintahan kolonial Belanda. Sebagai narapida Belanda, Motang Rua diperintahkan untuk membantu Belanda menumpas gerakan perlawabab rakyat Aceh itu. Namun, alih-alih membantu Belanda, menurut Wily Grasias, Motang Rua malah membantu  pasukan Teuku Umar dan Cut Nya Din.

Akibatnya, Motang Rua dibuang ke Saigon, Vietnam. Menurut Wily, di Saigon, Motang Rua jatuh cinta kepada seorang gadis Vietnam dan kemudian memperistrikannya. Gadis Vietnam itu anak dari seorang sahabat saudagar Belanda di Saigon. Dari perkawinan itu, ia mempunyai 3 orang anak, yaitu Nona Koe, Suje dan Guru.

Tak hanya Motang Rua, sejumlah pejuang Manggarai pun dihukum Belanda. Mereka dipenjara 10 sampai 20 tahun di pulau Jawa (Nusa Kambangan, Betawi), Sumatera (Palembang, Padang, Sawah Lunto, Aceh) Timor (Kupang, Camplong). Kebanyakan dari mereka meninggal dunia di tempat pengasingan.

Selain Motang Rua, beberapa yang berhasil kembali ke tanah Manggarai adalah Nicik (Kraeng Gantem), Hasa, Jagu, Nancung Laki Rani, Rede, dan Pakar Ame Jaga.

Motang Rua sendiri kembali ke Manggarai pada 1927. Saat itu Manggarai sudah menjadi sebuah kerajaan dibawah Pemerintahan Raja Bagung, raja kedua Kerajaan Manggarai.

Motang Rua kembali melalui Aimere. Saat itu, sedang gencar-gencarnya pembangunan jalan trans Flores yaitu dari Ruteng ke Ende. Menurut Wily, secara tak terduga, Motang Ruang bertemu Raja Bagung di Tengku Teang.

Karena kepulangan Motang Rua, pekerjaan pembukaan jalan tersebut dihentikan sementara. Raja Bagung dan seluruh rakyat kemudian menuju Beo Kina untuk melaksanakan upacara adat Caca Selek.

Wily mengatakan, ketika sudah kembali berada di tanah Manggarai, Motang Rua masih anti terhadap Belanda. Dia bahkan tak pernah mau bertemu dengan orang-orang berkebangsaan Belanda termasuk misionaris Katolik Belanda yang bekerja di Manggarai.

Akan tetapi menjelang akhir hayatnya, karena begitu kuatnya pengaruh Katolik di Manggarai,  pada tahun 1950, Motang Rua akhirnya dibaptis oleh Markus Sampu seorang guru agama Katolik dengan nama Petrus Guru.

Pada tahun 1951, putri sulungnya, Nona Koe datang ke Manggarai dan bertemu Kraeng Motang Rua Guru Ame Numpung di Teras, Desa Liang Bua Kecamatan Rahong Utara.

Ketika itu, Motang Rua enggan menerima kehadiran Nona Koe di kediamannya di Beo Kina. Alasannya, ibu Nona Koe yang berasal dari Saigon tersebut belum diberinya mas kawin (belis) sesuai adat istiadat Manggarai.

Dua tahun setelah dibabtis menjadi Katolik, tepatnya 25 Maret 1952, pada usia sekitar 92 tahun Motang Rua meninggal. Dia dimakamkan di Beo Kina, tanah kelahiranya. (PDB/ Floresa)

Advertisement
BAGIKAN

14 Komentar

  1. buat teman teman ku dari manggarai belajarlah karna hanya ini yang bisa kita lakukan sebagaimana kita bertrimakasi kepada nenek kita "MOTANG RUA" agar tidak di jajah lagi, baik yang penjajahan yang secara halus maupun kekerasan secara fisisk. tapi jangan hanya untuk manggarai ya, harus juga untuk bangsa dan negara ini, karna apalah artinya bineka ini kalau kita hanya memihak. salam perjuangan

  2. Yang membingungkan saya dari kisah di atas adalah bagaimana bisa di tempat pembuangan di aceh Motang rua membantu perjuangan pasukan Teuku Umar dan Cut Nya Din?? Perjuangan Motang Rua baru di mulai tahun 1909, Sementara Cut nya dhien wafat 06 November 1908. betul2 tidak nyambung.

  3. Pak Takeshi. catatan yg baik. memang catatan tertulis untuk membuktikan soal keterlibatan Motang Rua dalam perang Aceh tidak ada. Hanya dari cerita lisan beliau ketika ia pulang ke Manggarai. Tapi sya kira pada tulisan di atas hanya disebutkan “membantu pasukan Teuku Umar dan Cut Nyak Dien”. Artinya, walaupun Cut Nyak Dien meninggal tahun 1908, tapi pasukannya yang meneruskan perlawanannya masih ada.

  4. Thanks ceritanya ka’e…
    Saya merasa bangga setelah saya membaca cerita MOTANG RUA…Perjuangan yang sangat hebat….
    Salam dari Bali….

  5. Pertanyaannya sekarang kenapa Motang rua tidak ada dlm dafar nama pejuang..
    Memang NEGERI sungguh tak adil.. Lebih memperioritaskan yg di bagian indonsia barat.. Tp di indonsia timur merka abaikan..

  6. Trmksh bnyak om. Om saya mau tanya, buku yg mncrtkn motang rua ini ada tida d perpus daerah ruteng. Solanya sya lg cri bukunya om.

  7. Aku bangga terhadap pahlawan Motang Rua yg nyaris terlupakan oleh peradaban dan perkembangan zaman,kita generasi penerus Motang Rua,bersatu melawan ketidakadilan dan koruptor yg ada di manggarai,sehingga masyarakat manggarai hidup sejahtera .

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini