Puluhan Warga Terkena Penyakit Gatal-Gatal, Pemkab Belu Dinilai Tidak Responsif

0
668
Penyakit Kulit Warga Belu (Kompas.com/Sigiranus M Bere)

 

Penyakit Kulit Warga Belu (Kompas.com/Sigiranus M Bere)
Penyakit Kulit Warga Belu (Kompas.com/Sigiranus M Bere)

Floresa.co – Puluhan Warga Dusun Koin Desa Ekin Kecamatan Lamaknen Selatan Kabupaten Belu kembali diserang penyakit gatal-gatal. Penyakit yang menyerang alat kelamin, kulit perut, jari tangan dan kaki, dan dubur tersebut terjadi sejak sebulan yang lalu.

“Sudah ada puluhan anak-anak dan orang dewasa di Dusun Koin yang kembali menderita penyakit gatal-gatal. Jumlah tersebut diperkirakan akan bertambah mengingat dari Pemerintah Daerah belum ada respons terkait keluhan penyakit warga tersebut,” tutur Romo Inosensius Nahak Berek, Pastor Pembantu di Nualain kepada Floresa.Co, Kamis (6/11/2014).

Romo Inosensius mengungkapkan, penyakit gatal-gatal itu sebenarnya sudah hampir setahun menyerang warga. Namun, pihak Pemerintah Daerah belum ada langkah konkret untuk mencaritahu penyebab penyakit gatal-gatal itu.

“Sampai detik ini, Pemkab Belu melalui Puskesmas Nualain baru satu kali melakukan pemeriksaan terhadap para korban. Anehnya, belum ada informasi resmi dari pihak Puskesmas terkait apa penyebab penyakit gatal-gatal itu,” ungkap Inosensius.

Romo Inosensius berharap, kondisi warga penderita penyakit gatal-gatal harus segera ditangani Pemkab Belu. Sehingga penyakit gatal-gatal tersebut tidak terjangkit kepada warga yang lain.

Sementara itu, Melky Nahar dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Daerah Nusa Tenggara Timur, mengungkapkan penyakit gatal-gatal yang menyerang warga akibat kondisi daerah aliran sungai Bekosorun yang sudah tercemar.

“Dugaan kami karena DAS Bekosorun itu sudah tercemar limbah tambang mangan PT Nusa Lontar Resources yang notabene beroperasi di Dusun Ai Tameak, hulu dari DAS tersebut,” kata Melky.

Menurutnya, Pemkab Belu melalui Dinas Badan Lingkungan Hidup Daerah (BLHD) Belu dan Provinsi NTT pernah melakukan uji laboratorium terhadap air yang dikonsumsi warga setempat.

“Kami tidak tahu, mereka (BLHD) ambil sampel air dimana dan hasil uji laboratoriumnya seperti apa, kami juga tidak tahu. Pemkab Belu cenderung tertutup dengan informasi seperti itu,” kata Melky.

Walhi mendesak Pemkab Belu untuk segera melakukan pengobatan dan mencari tahu apa penyebab terjadinya penyakit gatal-gatal itu.

“Pemkab Belu jangan tunggu di tempat, mereka harus turun ke lokasi,” desak Melky. (TIN/Floresa)

Advertisement

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini