Tambang di Sirise
Tambang di Sirise

Oleh: Gerard N. Bibang

1.
di tepi lubang ini, kami duduk sambil menangis
meratapi bumi
wae teku* kami sudah lama mengering
sungai-sungai mengalirkan bau amis
natas labar* kami telah tiada
uma rana* dan ladang-ladang kami telah digantikan dengan lubang-lubang tambang
gunung-gunung kami telah disulap jadi gurun seluas Sahara
udara yang dihirup semuanya debu pekat-hitam-mangan
semuanya telah pergi
dan di tepi lubang ini
kami duduk sambil menangis
2. 
ketika wae teku kami mengering
airnya yang bening terhanyut ke lubang-lubang sepi
wae teku kami sudah ke mana?
airnya yang bening sudah ke mana?
wae teku telah berubah rupa menjadi lubang hitam
beningnya sudah digantikan limbah pekat mangan
minum dan berak kami pun semuanya hitam-mangan
ketika wae teku mengering
air mata kami sudah habis
mengering….
tinggal tetesan air mata darah ke titik penghabisan 
ke mana lagikah kami menimba air
menyambung kehidupan?
3. 
ketika larik* dan nggiling * siap beradu-gaya
ketika giring-giring di sekeliling pinggang berbunyi berirama mengikuti caci 
ketika gung-gendang bertalu-talu mengiringi hentakan kaki dan betis putri-putri nusa bunga yang meliuk-liuk atas-bawah-kanan-kiri 
ketika caci sedang dipentas di tengah-tengah natas labar 
tiba-tiba datang segerombolan orang berseragam, menghentak:
“gantungkan larik, nggiling dan giring-giring di pohon-pohon sita;
gantungkan gong-gendang di pohon-pohon waru;
pergilah ke hutan atau ke mana, terserah!
natas labar ini akan dijadikan tambang emas dan mangan! 
4.
mengapa caci  diusir?
nenek moyang kami mewarisi caci
ketika kami diusir dari sini
ke mana lagikah kami akan bermain caci?
5.
ketika pacul dan parang menebas ilalang uma rana
dan putri-putri kami menyiang rumput di sekitar akar-akar umbi
tiba-tiba datang segerombolan orang berpangkat besar, menghentak:
buang kau punya pacul  itu ke sungai-sungai kering
gantungkan kau punya parang itu di pintu-pintu kamar
pergi dan jadilah buruh tambang supaya cepat kaya
uma rana ini akan jadi tambang!”
6.
mengapa harus dipaksa jadi penambang kalau kami sudah memilih petani untuk membuat diri kami sejahtera?
mengapa kesejahteraan dipaksakan?
ketika kami dipaksa menjadi buruh tambang
etos kami segera berubah:
”dibentak-bentak oleh cukong dari negeri seberang
punggung-punggung kami dilecuti  rotan diselang-selingi makian la’e buta*
diejek-ejek sambil menjulurkan lidah ke wajah-wajah kami dan berkata:
“di mana sudah kau punya uma rana? di mana sudah kau punya kebun dan ladang?”
7.
ketika bumi kami dijadikan lubang-lubang tambang
ke mana lagikah kami akan berladang?
andaikata jarum jam diputar kembali dan kami menjadi bayi
biarlah kami dibawa segera ke dalam rahim bumi
8.
ketika semua ini terjadi
wae teku dan sungai-sungai mengering
hutan belantara menjadi gurun cadas
kebun dan ladang dijadikan lubang-lubang tambang
segelintir orang yang memegang palu kuasa
menari-nari di atas duka derita 
ketika semua ini terjadi
bumi ini sungguh tidak gratis lagi
tidak lagi menjadi ibu yang menyusui
apa-apa mahal
apa-apa komersial
9.
ketika semua ini terjadi
ke mana lagikah kami akan mengadu
kalau bukan kepada negara
yang didaulat menjadi operator keadilan bagi seluruh warga?
masih beralasankah untuk kami berlama-lama hidup di atas bumi?
ke mana lagikah kami akan pergi kalau bukan kepadamu bumi,
ibu kami, tana dading*?
 
****
 
Lorang tambang = Ratapan Tambang
Puisi ini pernah bacakan pada lonto leok sehabis Misa Keluarga Katolik Manggarai (KKM), Minggu 19 Sept 2010, di Aula Marsudirini, Matraman, Jakarta Timur