Gregorius Afioma

Oleh: Gregorius Afioma, mahasiswa asal Manggarai-NTT, sedang studi di Filipina

Sebuah petisi tentang “skandal” uskup Ruteng, Mgr. Hubert Leteng, Pr baru-baru ini  cukup mengagetkan. Pihak keuskupan mengklarifikasi bahwa informasi itu tidak benar adanya. Lantas apakah persoalan sudah selesai?

Saya sendiri tetap menangkap suatu kejanggalan tatkala reaksi beberapa orang menjadi tak wajar. Dikatakan tidak wajar apabila hanya sekadar fokus pada soal klarifikasi fakta dan merasa terganggu kalau isu ini terus dibahas karena seolah-olah dapat mengancam iman umat beriman.

Peristiwa demikian justru menjadi momen terbaik merefleksikan iman kalau kita mau bertanya, apakah adanya peristiwa demikian mengganggu iman kita kepada Kristus melalui Gereja seandainya apa yang diutarakan dalam petisi tersebut “benar-benar” terjadi atau akan terjadi dengan pemeran yang berbeda pada masa mendatang?

Pertanyaan Dasar

Beberapa kasus sebelumnya yang melibatkan para klerus membuat pikiran saya terbuka. Pelanggaran nilai-nilai moral oleh kaum klerus tidak lagi begitu mengejutkan, apalagi harus ditutup-tutupi.

Pada tahun lalu di Maumere, kasus pembunuhan bayi dan ibu oleh seorang mantan pastor bernama Herman Jumat terungkap. Hal itu memberikan kesan bahwa tindak kejahatan moral bukan lagi sesuatu yang mustahil dilakukan kaum rohaniwan. Apalagi soal skandal seks yang sudah semacam bayangan yang  selalu mengikuti kehidupan kaum selibat.

Apabila menengok berita-berita dari belahan dunia lain, kita tak seharusnya kaget. Mantan uskup, Fernando Lugo yang menjadi presiden Paraguay pada 2008 tersandera oleh skandal. Semasih menjadi uskup ia mempunyai istri dan anak. Kasus pedofilia juga marak terjadi di Amerika serikat dan Eropa. Apalagi kalau menengok lebih jauh kebelakang, pada abad pertengahan, perilaku kaum religius termasuk Paus membuat kita risih membacanya.

Sebetulnya semua skandal itu adalah masalah yang harus ditanggapi dan direfleksikan. Akan tetapi keengganan kita untuk berbicara terang-terangan karena beranggapan itu sebagai sebuah ancaman iman adalah juga sebuah persoalan serius.

Salah satu jawaban yang mungkin dari keengganan kita itu adalah kita belum menyentuh pertanyaan dasar dalam kehidupan beriman, “mengapa kita perlu beriman kepada Allah?”

Mengapa Harus Beriman?

Beriman berbeda dari beragama. Beriman adalah hasrat dasar manusia. Beragama adalah cara-cara untuk menjawabi hasrat itu. Beriman berada pada level metafisis dan kegiatan keagamaan adalah praktikal.

Beriman kepada Allah merupakan suatu jawaban dari kerinduan dasariah manusia akan makna hidup. Hakikat manusia adalah makluk rasional. Cepat atau lambat, ia akan bertanya, “kemanakah arah hidupku?” dan “darimanakah saya berasal?”. Entah para ateis, kaum beragama, ilmuwan, maupun penduduk di suku-suku terpencil akan berhadapan dengan tantangan dasar yang sama.

Berhadapan dengan pertanyaan tersebut, umat beragama dan suku-suku primitif cukup dimanja. Tak perlu harus mencari-cari, pertanyaan demikian sudah terjawab dalam Kitab Suci agama masing-masing atau dalam mitos-mitos. Agama-agama samawi percaya bahwa Allah adalah asal dan tujuan hidup manusia.

Tentang keberadaan Allah itu, kitab suci bukanlah sumber satu-satunya. Melalui beberapa langkah penalaran logis, filsafat sudah coba memberikan definisi rasional tentang Allah. Allah, misalnya dianggap sebagai prima causa, penggerak akhir yang tak digerakkan oleh penggerak yang lain. Keberadaan Allah dapat diketahui dari ilustrasi sederet gerbong kereta yang menarik satu oleh yang lain.  Pada titik ujung dari rangkaian itu ada lokomotif yang bergerak karena kemampuannya sendiri.

Begitupun hubungan kausalitas dalam duniawi ini. Jika terus ditelusuri ke belakang, kita harus menerima bahwa ada suatu realitas yang tak diciptakan oleh sesuatu yang lain kecuali oleh dirinya sendiri. Tanpa harus dibuktikan secara empiris, penalaran demikian harus diterima. Kalau tidak, kita tidak akan berhenti bertanya. Selain itu, tuntutan dari sudut epistemologis, kita juga harus mampu membangun suatu landasan bagi pengetahuan. Tidak bisa jatuh dalam sikap skeptis yang terus-menerus.

Berhubung kepercayaan akan Allah itu adalah rasional, kaum ateis dan kaum evolusionis menemukan kesulitan. Di satu pihak, mereka tidak menerima Allah dan tidak mengakui realitas transenden, di lain pihak mereka akan terus terdesak oleh pertanyaan akan makna hidup.

Franz Magnis-Suseno dalam buku menalar tuhan mengatakan bahwa kritikan para filsuf ateis pada zaman modern sebetulnya tidak tepat sasaran. Sartre, Feuerbach, Nietzsche, Marx tidak begitu dalam membahas apakah Allah ada atau tidak ada. Mereka justru jatuh pada kritikan terhadap citra Allah yang digambarkan melalui sikap-sikap gereja yang mengatasnamakan Allah saat itu.

Ambil contoh adalah Sartre. Ia mengatakan bahwa adanya Allah membuat manusia tidak bebas. Ia menempatkan Allah pada level setara dengan manusia sehingga membuat keduanya bersaing dan menjadikan manusia tidak bebas. Allah adalah pribadi yang sempurna dan transenden, sementara manusia masih berada kehendak untuk menjadi sempurna dan masih berubah-ubah. Tentu Allah tidak punya kepentingan untuk menjadi sempurna, sehingga harus mau bersaing dengan manusia. Namun kritikannya tersebut dapat dipahami ketika melihat situasi gereja yang saat itu yang terlampau menekan hidup umat beriman.

Sementara itu,  kaum evolusionis lebih menunjukkan pemikiran-pemikiran yang menggelikan berhadapan dengan pertanyaan dasariah tersebut. Kita tidak punya basis etika yang kuat ketika manusia hanya dianggap sebagai makhluk “antara” yang mengantar kepada bentuk evolutif manusia berikutnya melalui mekanisme persaingan. Kaya dan miskin, misalnya adalah realitas yang harus diterima sebagai bagian dari persaingan. Seolah kemiskinan tak seharusnya diretaskan. Pengemis tak seharusnya ditolong sebab perasaan belaskasihan hanyalah hasil interaksi zat-zat kimiawi dalam tubuh.

Kaum evolusionis mereduksi semua perasaan dan pikiran pada pandangan materialisme. Padahal perasaan dan pikiran merupakan sesuatu yang immaterial. Menolong orang miskin adalah suatu dorongan untuk mencapai pengetahuan tertinggi yakni keadilan sebagai kebutuhan dasar dari manusia yang haus akan nilai-nilai. Atau otak, misalnya tidak sama dengan pikiran. Otak hanyalah kondisi yang memungkin terjadinya proses berpikir.

Sebetulnya tendensi yang terlampau ilmiah itu disebabkan oleh ambisi sains untuk melihat realitas dari kaca mata sains semata-mata.  Pada dunia keseluruhan hanya dapat dijelaskan melalui kerja sama lintas disiplin ilmu seperti sains, agama, filsafat, budaya, seni, dll.

Bertahan dalam Iman

Dengan demikian, iman adalah kebutuhan dasar manusia sebagai makhluk rasional. Beriman tidak sekadar warisan orangtua atau nenek moyang.

Institusi keagamaan adalah suatu struktur yang mengakomodasi hasrat kita berhadapan dengan pertanyaan bagaimana seharusnya menanggapi pemahyuan Allah dalam kehidupan kita. Lagu, gambar, ritus, simbol dalam liturgi keagamaan adalah instrumen mempertemukan hasrat hati kita dengan realitas transenden. Dan melalui Kitab Suci kita belajar bagaimana orang-orang dalam sejarah menanggapi pewahyuan realitas transenden tersebut.

Namun institusi keagamaan masih berada dalam ruang duniawi. Institusi agama tidak sempurna. Ia berubah-ubah dan berkembang seturut dinamika sejarah manusia. Maka kritikan adalah sesuatu yang perlu dan lumrah agar baju agama tetap layak untuk dikenakan oleh makhluk beriman.

Persoalannya adalah acapkali kita tidak bisa membedakan beriman dan beragama. Kelemahan dalam institusi keagamaan akhirnya membuat kita menampik keterarahan dasar kita untuk beriman. Bahwa kita kecewa terhadap berbagai skandal para imam, para uskup, dan lain sebagainya, satu hal yang pasti adalah tidak boleh mengkianati diri kita sebagai makhluk beriman.

Kita harus membedakan iman sebagai sebuah kebutuhan dasar manusia dan penghayatan iman dalam baju institusi agama yang disertai kelemahan-kelemahan manusiawi. Inilah yang membuat kita harus semakin kritis dalam menanggapi isu-isu negatif seputaran dinamika keagamaan.