AKBP Tony Binsar Marpaung
AKBP Tony Binsar Marpaung
AKBP Tony Binsar Marpaung

Floresa.co – Konflik di Reo, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT) tidak dipicu oleh soal agama, tetapi murni tindak kriminal, demikian kata Kapolres Manggarai AKBP Tonny Binsar Marpaung.

“Pertemuan dengan para tokoh lintas agama sudah saya lakukan dan saya tegaskan agar percayakan penyelesaian kasus ini kepada aparat kepolisian. Jangan dibawa ke isu SARA (Suku, Agama, Ras dan Antargolongan-red). Ini murni pidana penyerangan dan penganiayaan. Sejauh ini kita sudah menetapkan 4 orang tersangka,” katanya kepada wartawan di Reo, Selasa (7/10/2014).

Konflik yang terjadi pada Hari Sabtu dan Hari Minggu malam pekan lalu itu, melibatkan warga Mata Air dan Mangga Dua yang menyebabkan 18 rumah rusak dan 3 orang mengalami luka.

Tonny juga membantah keras pemberitaan bahwa anggota dia dari Polsek Reo yang memprovokasi insiden itu.

“Saya sudah memeriksa anggota yang disebutkan dalam pemberitaan itu langsung di Polsek Reo. Saya tidak temukan keterlibatan dia”, katanya, merujuk pemberitaan sejumlah media yang menyebut keterlibatan Polisi Erik, anggota Polsek Reo.

Sementara itu, Pastor Paroki Reo, Romo Luis Jawa Pr mendesak penanganan kasus ini segera dituntaskan.

Ia juga meragukan profesionalitas polisi dalam menangani kasus ini, mengingat sedikitnya pelaku yang ditetapkan jadi tersangka.

“Rumah yang rusak ada 18. Yang diperiksa polisi 18 orang. Tapi kok yang dijadikan tersangka hanya 4 orang. Yang benar saja polisi ini,” kata Romo Luis.

Rumah salah satu warga Mangga Dua yang rusak setelah diserang oleh warga Mata Air
Rumah salah satu warga Mangga Dua yang rusak setelah diserang oleh warga Mata Air (Foto: Floresa/Ardy Abba)

Terkait penyebab munculnya konflik ini, beberapa warga yang diwawancarai Floresa di Reo, pada Selasa kemarin memiliki beragam keterangan.

Robertus Nali, misalnya, salah seorang warga Mangga Dua yang rumahnya dirusaki karena kena lemparan batu menyatakan kejadian Sabtu dan Minggu malam itu tidak diketahuinya penyebabnya.

“Sebenarnya pokok kejadiannya kita tidak tahu masalah apa. Kita ini menjadi korban tak bersalah. Kemudian yang menggerakan massa kita tidak tahu karena sangat banyak yang melakukan penyerangan,” cerita Robertus seraya menunjukan cara masuk pelaku pengrusakan ke kampungnya.

Sementara itu, Kamsudin Usman warga Mata Air bersama para tokoh umat Muslim Reo mengatakan, serangan ke kampung Mangga Dua merupakan aksi spontanitas warga karena Teguh Setiawan, salah seorang peserta pawai takbiran Idul Adhan pada Sabtu malam terluka lantaran dilempar batu oleh orang tak dikenal.

Sementara penyerangan pada Minggu malam, kata dia, dipicu oleh terlukanya tangan warga Mata Air bernama Darwis yang menurut Kamsudin dibacok oleh orang tak dikenal.

“Karena itu, kami berharap agar polisi dapat mengungkap pelaku pelemparan batu di malam takbiran itu dan pelaku pembacokan warga kami,” ujar Kamsudin kepada Floresa.