Seorang warga Mangga Dua, Reo sedang menatap kaca jendela rumahnya yang pecah akibat dilempari batu oleh warga Mata Air (Foto: Floresa/Ardy Abba)
Seorang warga Mangga Dua, Reo sedang menatap kaca jendela rumahnya yang pecah akibat dilempari batu oleh warga Mata Air (Foto: Floresa/Ardy Abba)

Reo, Floresa.co– Kerusuhan antara warga Mata Air dan Mangga Dua di Kelurahan Mata Air, Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, Sabtu dan Minggu malam (4-5/10/2014), membuat seorang anak Sekolah Dasar (SD) di SDK Reo 3  mengalami trauma dan merasa takut untuk pergi ke sekolah.

Yohanes Pedrik Suku (6), begitu nama lengkapnya lewat ibunya Hadiati Maria Yosefina, kepada Floresa, Selasa (7/10/14) siang, mengaku, anaknya sudah dua hari pasca kejadian tidak ke sekolah lantaran trauma dengan kejadian penyerangan yang dilakukan oleh warga Mata Air ke kampung Mangga Dua.

“Mama saya takut dan saya tidak mau pergi ke sekolah,” ucap Yosefina meniru kata-kata anaknya.

Yosefina menjelaskan, kerusuhan pada pekan lalu itu, merupakan yang ketiga kali terjadi di kampungnya.

Penyerangan kali ini, kata dia, secara tiba-tiba tanpa diketahui apa penyebabnya.

Beberapa warga yang ditemui Floresa di lokasi kejadian, menuturkan, warga asal Mata Air melakukan penyisiran ke rumah-rumah kampung Mangga Dua usai melakukan pawai takbiran.

Kerusuhan dengan upaya penyerangan ke kampung Mangga Dua menyebabkan 18 rumah rusak. Kaca-kaca jendela dan beberapa pintu rumah dari warga kampung Mangga Dua pecah lantaran dilempar dengan batu.

Kapolres Manggarai, AKBP Toni Binzar Merpaung kepada sejumlah awak media di Polsek Reo mengatakan, hingga kini pihaknya sudah menetapkan 4 tersangka asal kampung Mata Air.

JL,SN,YP dan JG dinilai telah melakukan pengrusakan rumah-rumah warga Mangga Dua.

Pantauan Floresa, hingga kini aparat Polres Manggarai dibantu anggota TNI dari Kodim 1612 Manggarai sedang berjaga-jaga di lokasi bentrokan.