Peserta aksi mengusung peti mati Bupati Yosep Tote, simbolisasi matinya nurani ini.
Peserta aksi mengusung peti mati Bupati Yosep Tote, simbolisasi matinya nurani ini.
Peserta aksi mengusung peti mati Bupati Yosep Tote, simbolisasi matinya nurani ini.

Floresa.co – Para mahasiswa di Kupang, NTT yang menggelar aksi unjuk rasa pada Senin (22/9/2014) mengusung peti mati Bupati Manggarai Timur, Yosep Tote.

Peti tersebut yang dibalut dengan kain hitam, di atasnya tertulis, “RIP Bupati Manggarai Timur Yosep Tote.”

Irvan Kurniawan, kordinator aksi mengatakan, peti tersebut merupakan simbolisasi matinya nurani Bupati Tote dalam menanggapi kasus tambang di Tumbak, Desa Satar Punda, Kecamatan Lamba Leda.

“Nuraninya sudah beku, mati. Karena itu, tidak memikirkan lagi penderitaan masyarakat di sana”, kata Irvan, yang juga Ketua Himpunan Mahasiswa Manggarai Timur (HIPMMATIM).

“Semoga dengan peti ini, ia bisa sadar bahwa publik menantikan langkahnya sebagai pemimpin untuk menyelamatkan warga di Tumbak”, katanya.

Sementara itu, Melky Nahar dari Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) NTT mengatakan, jika Bupati Tote tetap saja tidak mengambil solusi yang memperhitungkan hak-hak dan masa depan masyarakat, maka bupati ingin menunjukkan bahwa dirinya benar-benar tidak memiliki hati untuk masyarakat yang dipimpinnya.

ToteAksi unjuk rasa kelompok mahasiswa dan aktivis yang tergabung dalam Forum Lingkar Advokasi Tambang diikuti sejumlah organisasi.

Selain HIPMMATIM dan Walhi NTT, aksi ini juga dihadiri Liga Mahasiswa Demokrasi Indonesia (LMND), Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Perhimpunan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Forum Mahasiswa Pemerhati Mafia Pendidikan Indonesia (FORSAMING), Himpunan Mahasiswa Muslim Manggarai Timur (HAM3T),  Ikatan Mahasiswa Pelajar Reok (IMAPER), Advokasi Pedesaan (BENGKEL APPEK), Persatuan Mahasiswa Sikka (PERMASI), BEM Ekonomi UMK, FORMASI, FORMANDA NTT, IMAPOL, dan PERMAPORATIM.

Dalam aksinya, mereka mendatangi Kantor DPRD Provinsi dan Polda NTT.