Uskup Ruteng Mgr Huber Leteng Pr, salah satu dari lima uskup yang menghadiri acara HUT ke-60 Seminari Kisol
Uskup Ruteng Mgr Huber Leteng Pr (Foto: katerdralruteng.com)
Uskup Ruteng Mgr Huber Leteng Pr (Foto: katerdralruteng.com)

Ruteng, Floresa.co – Gabungan mahasiswa dari Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Ruteng dan Gerakan Mahasiswa Nasional Republik Indonesia (GMNI) Cabang Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT) meminta para petinggi Gereja Katolik di Keuskupan Ruteng, terutama Uskup Mgr Huber Leteng Pr untuk menyikapi secara serius kasus kekerasan yang menimpah warga Kampung Tumbak pada akhir pekan lalu.

Kekerasan itu yang dilakukan oknum Polres Manggarai pada Sabtu (13/9/2014) juga menimpah Pastor Simon Suban Tukan SVD, Kordinator JPIC-SVD Ruteng, ketika ia bersama warga sedang berupaya menghalau pihak perusahan tambang PT Aditya Bumi Pertambangan yang sedang berupaya masuk ke lahan warga.

Dionisius Reinaldo Triwibowo Sallisai, Ketua PMKRI Ruteng menyatakan, ada harapan mendalam akan adanya sikap tegas Gereja terhadap kekerasan yang terjadi pada warga di Desa Satar Punda, Kecamatan Lamba Leda, Kabupaten Manggarai Timur itu.

Kata Sallisai, PMKRI ada di depan Gereja dalam mengusut tuntas kasus tersebut.

“Siapapun yang mencoreng nama baik Gereja, akan kami sikapi. Tapi kami mau Gereja lewat imam-imannya juga harus menyikapi segala bentuk tindakan kekerasan. Intinya kami juga butuh dukungan,” tegas Sallisai kepada Floresa, Selasa (16/9/14).

Hal serupa disampaikan Fabianus Apul, Ketua GMNI Manggarai. Apul berharap, Gereja peduli dan tetap solid terhadap kasus yang menimpah warga Tumbak dan Pastor Simon.

Kata Apul, saat itu Pastor Simon sedang memperjuangkan Hak Asasi Manusia sesuai dengan cita-cita para martir Gereja ketika ia mengalami kekerasan.

“Jangan takut memperjuangkan kebenaran dan keadilan demi pelayanan kepada seluruh umat Gereja,” tutur Apul.

Sementara itu, Pastor Edy Menori Pr yang mewakili petinggi Gereja Keuskupan Ruteng menjawab tuntutan dan harapan PMKRI dan GMNI.

Ia menyatakan, peristiwa yang menimpah warga Tumbak dan Pastor Simon menjadi titik penting bagi semua pihak agar perlu mencari langkah baru dalam perjuangan menolak tambang.

“Sudah lama kita perjuangkan ini. Ternyata dialog-dialog yang kita bangun selama ini dengan pemerintah tidak ditindaklanjuti,” ungkap Pastor Edy.

Ia menambahkan, tentara dan polisi sudah terang-terangan tidak pada posisi netral dalam persoalan pertambangan. Selain itu, kata dia, Pemkab Matim pun cuci tangan berhadapan dengan konflik yang terjadi.

“Rakyat sesungguhnya tidak siap dan tidak tega dengan kehancuran yang dilakukan oleh korporasi tambang,” katanya.

Pastor Edy menjelaskan, saat ini mereka sedang berdiskusi tentang sikap Keuskupan Ruteng terhadap kasus yang menimpah warga Tumbak dan Pastor Simon.

Sebelumnya diberitakan, insiden yang menimpah sekitar 40-an warga dan Pastor Simon terjadi di Lingko Roga, tanah ulayat milik warga Tumbak saat mereka berusaha menghadang mobil dan alat gusur milik PT Aditya

Pastor Simon dilaporkan ditarik dari kerumunan warga dengan kasar oleh anggota polisi hingga jatuh tersungkur dan setengah sadar.

Beruntung Pastor Simon cepat dibantu warga dan segera dilarikan ke klinik terdekat milik salah satu biara di Reo, Kecamatan Reok.

Sementara itu, ketika dikonfirmasi Floresa, Kapolres Mangggarai AKBP Tony Binsar Marpaung membantah semua tuduhan kekerasan yang dilakukan polisi.

“Tidak ada tindakan seperti itu, tidak benar dan salah. Menurut perwira saya di lapangan, Pater Simon (dalam) kondisi lemah saat beraktivitas dan dikelilingi warga yang memegangnya sehingga tidak ada 1 pun polisi yang menarik”, kata dia.

“Semua ada dokumentasinya dalam foto dan rekaman video oleh petugas”, lanjut Tony.