Oleh: Atra Senudin

Lolongan anjing terus meraung sejak beberapa jam lalu. Suaranya memekikan telinga. Suara lolongan itu panjang dan memberi kesan menakutkan. Suara itu bergema membelah cakrawala. Sementara malam mulai menua, menyisahkan warnanya yang pekat.

Waktu menunjukan pukul 09.00 malam. Seperti biasanya, di atas pukul 08.00 malam, penduduk di kampung ini sudah menghentikan segala aktifitasnya. Kebanyakan orang sudah mulai tertidur, karena pagi-pagi mereka harus melakukan aktifitasnya kembali. Para remaja dan orangtua ke kebun dan anak-anak kecil ke sekolah. Rutinitas inilah yang sudah dilakukan sejak berpuluh-puluh tahun lamanya.

Sudah hampir sepekan, lolongan anjing terus mewarnai malam. Lolongan anjing yang aneh itu sudah pasti menjadi bahan pembicaraan penduduk. Banyak spekulasi bermunculan. Apalagi beberapa bulan lalu baru dilangsungkannya pesta demokrasi pemilihan anggota legislatif.

“Saya takut, kalau sesuatu yang buruk akan terjadi di kampung ini, Lando. Kau dengar kan, sudah berapa malam ini anjing-anjing di kampung melolong sepanjang malam,” kata Bento.

“Saya juga berpikiran seperti itu Bento. Kau tahu sudah berapa malam ini saya tidak bisa tidur dengan aman. Kalau menurutmu, kira-kira apa yang akan terjadi di kampung ini? Sudah lama saya menerka jawaban-jawaban dari setiap pertanyaan itu. Tetapi hasilnya sama saja, saya tidak yakin dengan jawaban itu,”

“Lando, kau ini kan seorang sarjana. Harusnya kau jangan ragu dengan terkaanmu. Kau tahu, semua orang di kampung ini percaya padamu. Mereka menganggap kau seperti peramal, karena banyak terkaanmu benar,” kata Bento sambil menatapku tajam, seakan-akan ingin meyakinkanku dengan kebenaran kata-katanya.

“Bento, kau ini ada-ada saja,” aku tertawa mendengar ucapannya.

“Tidak Lando. Saya sedang serius. Kau sarjana dan juga seorang petani. Hanya karena omonganmu saja, semua orang di kampung ini tidak lagi membeli pupuk di kota. Setelah kau bilang ke mereka semua kalau pupuk dari kotoran hewan lebih bermanfaat, mereka semua bisa panen berlimpah tahun ini. Lando, Lando, kau itu seperti dewa,”

“Itu bukan karena aku seperti dewa, Bento. Itu hanya sedikit ilmu yang saya dapatkan dari bangku sekolah sarjana. Apa gunanya sekolah tinggi-tinggi kalau bukan untuk memajukan kampung halaman sendiri? saya lahir dan besar disini dan punya tanggung jawab untuk memajukan kampung ini. Saya punya mimpi Bento, agar penduduk kampung ini bisa sejahtera,” kataku.

Bento terdiam. Aku juga. Kami sama-sama menerawangi pikiran masing-masing. Saat itulah, suatu pengalaman pahit terdampar lagi diingatanku setelah sekian lama aku mengarahkannya berlabuh hingga terhapus dari ingatan.

***

Hari ini aku menyelesaikan sarjana pertanianku. Tekadku sudah bulat; pulang kekampung. Apapun yang ditanggapi penduduk di kampung, aku tak ingin peduli. Aku hanya ingin agar petani dikampung bisa menghasilkan panen berlimpah dengan kualitas yang baik.

Maka tibalah aku di kampung ini. Kampung dengan struktur tanah yang tandus dan berbatu. Tanah yang sulit diresapi air. Tanah yang hanya mampu ditumbuhi alang-alang dan rumput. Tanah yang tidak menjanjikan bagi penduduknya tetapi menggiurkan liur orang asing. Sebab, perut tanah ini mengandung emas berkualitas tinggi.

Hari-hari berlalu dengan sangat cepat. Ejekan demi ejekan hinggap di daun telingaku. Ejekan-ejekan itu adalah kata-kata yang dimuntahkan atas rasa sayang dan penyesalan. Bagaimana tidak, seorang sarjana muda yang diharapkan kerja mengenakan jas dan berdasi, duduk santai, dan uang mengalir, kini menjadi seorang petani.

“Nak, ibu malu pada penduduk kampung ini. Kau seorang sarjana yang seharusnya kerja di kota dan menghasilkan uang dengan santai, sekarang pulang hanya untuk membawa cangkul. Ibu malu mendengar kata-kata mereka,” kata ibu suatu ketika dengan nada sedih. Dari suaranya, perempuan dengan kecantikannya yang tak kunjung luntur ini mengeluhkan keberadaanku disampingnya.

“Ibu, saat ini biarkan saja mereka berkata apa. suatu saat mereka akan syukuri keberadaanku disini. Saya pastikan itu padamu dan ibu berhak percaya ucapanku,” ujarku dengan penuh keyakinan.

Sebulan aku di sini, selama itu pula ejekan bertubi-tubi menempel di daun telingaku. Karena sudah menjadi tekadku untuk berkarya dikampung ini, ama aku membiarkan saja kata-kata itu merayap dan menempel di daun telingaku. Selama hampir sebulan pula, aku mencari cara untuk mengolah tanah tandus ini.

Pagi-pagi sekali aku terbangun. ibu menyiapkan segelas kopi untukku sebelum ia berangkat ke kebun. Segelas kopi hangat yang membuatku rindu berada disampignya. Segelas kopi yang mampu cairkan kebekuan pikiranku. Dan segelas kopi pagi ini memberikan semangat baru, aku ikut berangkat bersama ibu ke kebun.

Tanah itu masih seperti dulu. Tanaman apa saja yang tumbuh pasti lesu, layu, dan kerdis. Tidak ada humus yang terkandung ditanah berbatu. Dan kondisi itu membuat semangatku menggebu. Mengambil cangkul, mengayunkannya, dan menggembur tahahnya. Tanpa aku sadari, beberapa meter telah digembur dan wajah tanah ini tampak berbeda.

Keesokan harinya, aku menemu Bento. Tetanggaku yang satu ini memiliki beberapa hewan ternak, yakni sapi dam kerbau. Sapi dan kerbau itu biasa diikatnya di padang rumput yang terletak diseberang sungai. Aku menghampirinya dan meminta persetujuan agar kotoran hewan ternaknya diberikan untukku. Meski sedikit bingung, akhirnya ia mengangguk setuju juga. Kotoran-kotoran hewan tersebut ditampung dibawah pohon yang cukup rindang, dihalaman rumah. Untuk mempercepat pengolahan kotoran ternak menjadi pupuk kompos, aku membakarnya. Selanjutnya, disiram hingga menyerupai tanah.

Setelah hampir tiga minggu, aku membawa pupuk olahan tersebut ke kebun yang tanahnya telah digembur. Diatas tanah itu, bibit sayuran, umbi, dan jagung ditabur. Dan bibit itu tumbuh subur, sedangkan ejekan-ejekan yang perlahan-lahan mati dan layu tak terngiang lagi.

Sejak saat itulah, penduduk dikampung ini mulai menganggap kehadiranku penting. Seorang sarjana yang menjadi petani. Seorang sarjana yang mengubah tanah berbatu menjadi lahan subur. Tempat bibit-bibit tanaman tumbuh riang dan membuat penduduk senang.

Hingga akhirnya, aku diusulkan menjadi seorang calon anggota legislatif. Wakil rakyat, wakil penduduk di kampungku.

***

Aku tetap terdiam, ketika tiba-tiba Bento memegang punggungku.

“Lando, kau tahu apa yang aku pikirkan?”

Aku menggeleng.

“Aku sedang berpikir, jangan-jangan kau tidak lolos di kursi DPR,”katanya.

“Kenapa? Apa yang kau tahu? Hasil perhitungan suara sudah menyebutkan dengan jelas, suaraku bahkan melampau dari syarat yang ditentukan. Koran-koran minggu ini sudah mengumumkannya. Bahkan wartawan-wartawan ada yang datang ke sini untuk mewawancaraiku langsung. Mana mungkin mereka bohong?” jawabku.

“Tapi Lando, keputusan KPU belum diumumkan. Saya takut kalau suaramu itu hangus. Apalagi lawan politikmu, si Kronus tidak lolos. Dia banyak uang dan dia sangat berambisi,” terang Bento.

“Saya tahu itu. kalau suaraku tiba-tiba hangus, dan si Kronus tiba-tiba lolos, itu artinya dia yang mengambil suaraku. Perkara selesai. Dan saya kembali menjadi petani”.

“Kau benar, dan itu artinya kehancuran sudah mulai menampakan dirinya,” katanya sembari meninggalkanku.

Sepeninggal Bento, aku sejujurnya mulai memikirkan arti ucapannya. Politik tidak semulus anggur yang dituangkan dari cawan. Politik tidak semudah memecahkan roti ketika perayaan ekaristi. Politik penuh dengan keruwetan dan itu harus diakui. Dan aku, sarjana yang menjadi petani tak mampu berbuat banyak.

Pagi-pagi sekali, saat aku hendak berangkat ke kebun tiba-tiba Bento datang. Ia membawa koran dan menunjukannya padaku.

“Terkaanku benar, suaramu sudah hangus. Kau gagal duduk di kursi DPR, Lando,” ujarnya lemas.

Aku diam dan menatap berita yang tertera di koran. Namaku lenyap, sedangkan nama Kornus dicetak dengan huruf tebal. Pengumuman dari KPU sudah sah dan tidak ada gunanya digugat.

“Sudah diduga kan? Sudahlah, mending kita kembali ke kebun. Menggembur tanah lagi,” kataku.

“Lando, malam ini ada misa syukuran di rumah si Kornus. Syukuran atas terpilihnya si Kornus. Kau mau ikut, kita numpang makan daging saja,” kata Bento dengan nada merayu.

“Tidak Bento, itu bukan syukuran melainkan perayaan pengampunan. Mengambil milik orang lain berarti mencuri, dan mencuri itu adalah dosa. Dosa perlu diampuni,” sahutku sembari meninggalkannya.

“Tunggu Lando. Kenapa kau tidak marah?”

“Apa gunanya marah, kalau kita tidak diberikan kesempatan untuk meluapkan kemarahan itu”.

“Kau takut karena dia kaya dan bisa membunuhmu begitu saja? Kita juga bisa membunuhnya”.

“Tidak. Aku tidak takut dengan itu. Yang ditakutkan orang kaya bukan karena orang miskin ingin membunuhnya tetapi takut kalau orang miskin mengambil hartanya”.

Bento terdiam. Dan aku melanjutkan perjalananku ke kebun. Dalam benakku terlintas bagaimana nasib tanah ini dan emas yang terkandung di dalamnya? Waktu akan menjawabnya.

Denpasar, Mei 2014