Winfridus Keupung, Direktur Wahana Tani Mandiri (WTM) sedang memaparkan materi. (Foto: Floresa)
Winfridus Keupung, Direktur Wahana Tani Mandiri (WTM) sedang memaparkan materi. (Foto: Floresa)
Winfridus Keupung, Direktur Wahana Tani Mandiri (WTM) sedang memaparkan materi. (Foto: Floresa)

Soe, Floresa.co – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia untuk Propinsi Nusa Tenggara Timur (Walhi NTT) menggelar Pelatihan Konservasi Tanah dan Air pada Komunitas Adat Pubabu – Besipae, Kecamatan Amanuban Selatan, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Minggu (7/9/2014).

Melky Nahar, Manager Program Walhi NTT mengatakan kepada Floresa,  kegiatan ini adalah bagian dari upaya membangun kedaulatan pangan masyarakat adat di wilayah itu.

NTT, kata dia,  sebenarnya tidak mengalami krisis pangan kalau proses penataan dan pengelolaan pertaniannya adaptif terhadap perubahan iklim.

“Selama ini, persoalan itu tidak diperhatikan serius. Akibatnya para petani gagal tanam dan gagal panen,” jelas Melky, Senin (8/9/2014).

Selain itu, kata dia, selama ini manajemen konsumsi dan distribusi hasil pertanian tidak tertata rapih. Akibatnya, kebutuhan akan pangan per tahun dari para petani tidak diketahui pasti.

Herry Naif, Direktur Walhi NTT mengungkapkan, pelatihan ini merupakan satu dari berbagai jenis kegiatan yang akan dijalankan Walhi satu tahun ke depan di Komunitas Adat Pubabu – Besipae.

Menurutnya, program ini berjalan atas kerja sama dengan Global Environment Facility (GEF). 

“Kami kerjasama dengan GEF, sebuah donatur yang selalu mendukung Walhi selama ini. Program ini akan berjalan selama 15 bulan ke depan,” papar Herry.

Pada kesempatan yang sama, Winfridus Keupung, Direktur Wahana Tani Mandiri (WTM) mengatakan, konservasi tanah dan air merupakan upaya untuk menggunkan lahan sesuai dengan syarat–syarat yang diperlukan agar tidak terjadi kerusakan tanah.

“Konservasi tanah dan air mempunyai tujuan utama untuk mempertahankan tanah dan air dari kehilangan dan kerusakannya,” ungkap Wim saat memaparkan materi di hadapan warga.

Mantan Direktur Walhi NTT ini menyatakan, kenyataan yang terjadi akhir-akhir ini adalah terdegradasinya lahan dan air yang disebabkan oleh banyak faktor.

“Hal itu berpengaruh besar pada rusaknya atau berkurangnya kualitas dan kuantitas tanah dan air, Ini berdampak buruk pada lingkungan kita, bahkan dapat menyebabkan suatu bencana alam seperti longsor yang merupakan bentuk dari erosi,” katanya.

Paulus Selan, warga Komunitas Adat Pubabu – Besipae mengaku bersyukur atas program ini.

Menurutnya, Walhi NTT sudah lama berada bersama dengan warga komunitas adat di wilayah itu.

“Kami bersyukur karena Walhi NTT selalu bersama kami dan membantu kami dalam kerja-kerja untuk mewujudkan kedaulatan pangan bagi warga di sini,” ungkapnya. (Menar Lejek)