Selama 29 Tahun Diberhentikan Dari Imamat, Pastor Ini Pernah Jadi Menteri Luar Negeri

0
682
Pastor Miguel D’Escoto MM
Pastor Miguel D’Escoto MM
Pastor Miguel D’Escoto MM

Floresa.co – Setelah 29 tahun diberhentikan dari tugas imamat, Paus Fransiskus akhirnya mencabut larangan bagi Pastor Miguel D’Escoto MM  akibat keterlibatannya dalam pemerintahan revolusioner Nikaragua tahun 1970-an, demikian laporan Catholic News Service, yang dilansir Ucanews.com, Selasa (5/8/2014) lalu.

Imam berusia 81 tahun itu mengirim permohonan ke Vatikan untuk mengizinkan dia melanjutkan status imamnya karena ia ingin merayakan Misa lagi “sebelum meninggal.”

Fernando Kardinal Filoni, Prefek Kongregasi Evangelisasi, menandatangani surat pencabutan larangan Pastor D’Escoto.

Maryknoll Fathers and Brothers, sebuah organisasi misionaris Katolik Amerika Serikat dimana Pastor D’Escoto adalah anggotanya, merilis siaran pers dan mengutip surat Vatikan yang mengatakan: “Bapa Suci telah menerima kembali Pastor Miguel D’Escoto Brockmann, dan menyerahkan dia kepada Pemimpin Umum Tarekat (Maryknoll) untuk menemani dia dalam proses reintegrasi ke dalam status imam.”

Pastor  D’Escoto telah berperan besar dalam Gereja sebelum terlibat dalam politik di Nikaragua, yang bertentangan dengan sikap Gereja dan pastor itu memegang posisi pemerintah dan ia diberhentikan dari tugas imamat oleh Paus Yohanes Paulus II tahun 1985.

Setelah ditahbiskan tahun 1961, Pastor D’Escoto melayani Orbis Books, sebuah penerbitan Maryknoll, dan menjadi seorang pejabat Dewan Gereja Dunia.

Pastor D’Escoto menjabat sebagai Menteri Luar Negeri Republik Nikaragua selama lebih dari satu dekade dan saat ini ia menjadi Penasihat Senior Urusan Luar Negeri Presiden Daniel Ortega Saavedra.

Dia masih menjadi anggota Sandinista National Liberation Front (FSLN), sebuah gerakan politik yang berakar pada filsafat Marxis dan pernah memiliki hubungan dengan Partai Komunis di Soviet.

Dalam sebuah wawancara dengan majalah America tahun 1985, Pastor D’Escoto mengomentari tentang revolusi di Nikaragua dimana  para pemimpin Gereja terlibat.

Paus Fransiskus, tahun 1970 masih sebagai seorang pastor juga hidup dalam kediktatoran di negara asalnya Argentina, namun perannya dalam arena politik negara itu kurang terkenal ketimbang Pastor D’Escoto di Nikaragua.

Keterlibatannya dalam arena politik Argentina, ia dilaporkan bekerja dari balik layar untuk memberikan tempat perlindungan bagi orang yang teraniaya oleh pemerintah.

Keputusan Paus untuk mencabut larangan Pastor D’Escoto mungkin terkait pengalamannya saat kekacauan politik di Argentina, kata Pastor James Martin kepada HuffPost.

 

Advertisement

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini