Gregorius Afioma
Gregorius Afioma
Gregorius Afioma

Oleh: Gregorius Afioma, calon imam CICM asal Reo, Manggarai, sedang studi di Filipina

Kasus pertambangan di Manggarai semakin ramai dan intens dibicarakan beberapa tahun terakhir. Pembicaraan ini seolah tak menemui ujungnya saat elite lokal terus-menerus menjadi intrumen bagi pengusaha tambang dan rakyat di sekitar lokasi tambang dibiarkan menggeliat dan meronta-ronta tak karuan dalam jeratan kemiskinan.

Ibarat menu harian yang monoton, bagi saya kasus pertambangan ini memuakkan dan membosankan. Bukan karena beritanya yang semakin menjadi-jadi dan intens, tetapi karena saya menyaksikkan sendiri sejak kecil bentuk-bentuk ketidakadilan dari kehadiran pertambangan sebagai konsekuensi tinggal dalam lokasi lingkar tambang dan terlahir dari golongan masyarakat kelas bawah.

Dan ada satu pertanyaan yang membatin sampai sekarang: Bisakah para pemimpin berpikir dari perspektif korban?

Tukang Batu

Kalau Anda berjalan-jalan ke Reo pada siang hari, entah untuk berpiknik di Pantai Pasir putih yang berkemilau dengan riak-riak gelombang yang bersih, berdoa di gua torong besi yang hening, sepi, dan indah, atau ingin menikmati enaknya “kolak bawang” , perhatikanlah rumah-rumah yang tersebar dan saling berhadapan sepanjang sisi jalan mulai dari Jembatan Wae Pesi hingga kota Reo dan Sungai Wae Pesi yang mengalir malas-malasan di musim kering yang jaraknya hanya sepelempar batu dari rumah-rumah itu. Inilah kampung saya.

Di sana kebanyakan masih rumah-rumah papan yang berukuran kecil dengan atap seng. Hanya ada beberapa rumah tembok.

Lokasinya yang berada dekat Wae Pesi membuat kami yang tinggal di sini berstatus ganda: sebagai petani dengan kebun dan sawah yang letaknya jauh-jauh dan tukang batu karena Wae Pesi selalu berbaik hati kepada kami selepas banjir tahunan selama bulan Desember—Maret.

Di kala hati sedang gundah karena sapi yang sedang makan rumput kasar di delta sungai terseret arus, babi di kandang di belakang rumah ditenggelamkan air, tanah kebun pisang yang ikut tergerus, dan bahkan menelan nyawa manusia—karena banjir kadang-kadang datangnya seperti pencuri di malam hari—Wae Pesi memberikan imbalan berupa batu-batu bulat yang halus dan licin.

Selepas debit air menyusut di musim kering, batu-batu itu bertumpuk-tumpuk seolah gundukan uang yang tertutup kerang batu. Kalau kebun dan sawah mengenal musim untuk bisa mendatangkan uang, tidak dengan batu-batu di Wae Pesi itu. Ia seperti bank yang siap mencairkan dana cash dalam waktu singkat asalkan sanggup memecahkannya.

Oleh karena daya tariknya itu, kami beramai-ramai ke sana, mengajak anggota keluarga untuk mengumpulkan batu dan mulai memecahkannya. Untuk mengumpulkan lebih banyak, kami mencari teman untuk berkoalisi. Lalu dari jalan dapat anda saksikan, di tengah siang bolong pun, beberapa pria yang terlihat hitam terbakar terik mentari, kering, dan meranggas, bahkan ada yang tak mengenakkan baju, berdiri menurut kelompoknya masing-masing. Dan beberapa perempuan duduk dengan setianya di bawah tenda darurat beratap alang-alang atau terpal. Di saat matahari terasa menyengat, wanita-wanita itu menutupi kepala mereka dengan kain tebal, mengenakan baju berlengan panjang dan celana panjang sehingga hanya mata yang kelihatan.

Sayangnya, tidak seperti mesin pemecah batu dan excavator PT. Floresco di dekat jembatan Wae Pesi yang dalam kedipan mata saja sudah bisa memenuhi beberapa bak truck, para pria dan wanita ini harus memukul batu-batu itu bertalu-talu agar pecah berbentuk kerikil dengan sudut-sudut yang tajam. Saat butiran-butiran keringat membuat penglihatan jadi kabur, pukulan bisa meleset.

Tangan bisa jadi korban. Namun ibarat terkena cemeti dalam tarian caci yang malah bikin ketagihan, begitulah kami. Amarah, rasa sakit, dan terik mentari menjalarkan panas yang membuat kami malah makin berapi-api untuk meremukkan batu-batu itu. Alhasil satu truk bisa terkumpul satu hari, melebihi upah harian kalau kerja di kebun atau sawah. Lalu truk datang mengangkut batu-batu itu dan mendistribusikannya dimana saja ada proyek jalan.

Jalan Reo-Ruteng yang beraspal hitam dan licin di atas kerikil-kerikil bermandikan peluh itu adalah bukti nyata sumbangan keringat kami, walaupun kami juga mendapat upah dari situ. Hasilnya adalah di antara sela-sela kerja, kami tak henti-hentinya menyaksikan dan mendengar suara mesin mobil yang meraung-raung seperti kawanan serigala dan melaju dengan kencangnya di atas jalan licin itu. Ada puluhan unit mobil tangki Pertamina lalu-lalang tiap hari dengan lancar yang membawa bensin, solar dan minyak tanah, sehingga semua kendaraan bermotor di seluruh Manggarai bisa diberi “makan”. Ada mobil truck dan tronton pengangkut barang-barang konstruksi, makanan, dan kebutuhan dari pelabuhan Reo ke seluruh Manggarai, bahkan kabupaten lain. Saking sering dan semakin padatnya kendaraan yang lewat di jalan dekat Wae Pesi itu, seringkali kami tak mempedulikannya lagi. Kami hanya fokus pada batu-batu itu sebab semakin banyak yang butuh jalan raya diaspalkan dan kami harus semakin giat.

Hanya ada jenis kendaraan tertentu yang menarik perhatian kami. Mobil dengan bunyi mesin dan klakson yang unik dan rombongan pejabat yang mengadakan kunjungan. Anak-anak biasanya langsung bisa menebak dengan tepat siapa pengemudi dan jenis kendaraan dengan bunyi mesin dan klakson yang unik tersebut. Sedangkan kalau rombongan pejabat melintas, dari kejauhan sudah terdengar sirine mobil polisi yang melaju dengan cepat yang seolah dikejar oleh mobil polisi pamong praja dengan bak terbuka di mana beberapa polisi yang berseragam lengkap duduk menghadap sisi jalan di atas dua bangku panjang yang diletakkan saling membelakangi satu sama lain.

Disusul dengan belasan bahkan puluhan mobil-mobil berwarna hitam mengkilap dan berplat merah. Bunyi mesin mobil-mobil itu sangat halus sehingga nyaris tak terdengar. Meski kaca-kaca mobilnya memakai plastik riben hitam yang super gelap, kami tetap berhenti sejenak dari memecahkan batu dan melambaikan tangan untuk memberikan salam. Kami tidak bisa melihat mereka dengan warna kaca mobil yang tertutup rapat itu tetapi kami berasumsi mereka melihat kami. Hormat kepada pejabat ditanamkan sejak di bangku SD.

Itulah realitas kehidupan di siang hari di sana. Akan tetapi, tatkala siang hanyalah bagian dari satu hari, rasanya tidak akan lengkap jika Anda tidak bertanya tentang kehidupan malam hari di sana dan apa pula hubungannya dengan jeritan korban tambang.

Gerhana Berkepanjangan

Jika Anda melintas malam hari di sepanjang kampung ini, Anda menemukan kawasan ini sepi, gelap, dan menyeramkan. Meskipun Anda mungkin sudah hanya berjarak dua kilo meter dari kota Reo yang bercahaya terang, Anda masih mendapati rumah-rumah tampak suram, sepi, dan gelap. Di sana hanya ada berkas-berkas cahaya yang tak solid dari lampu-lampu minyak, lampu gas, dan beberapa tahun terakhir bermunculan generator yang bertahan hanya untuk beberapa jam. Singkatnya, rumah-rumah yang tersebar sepanjang 7 km dari Jembatan Wae Pesi sampai kota Reo dilanda gerhana berkepanjangan walaupun revolusi industri sudah dimulai beberapa abad yang lalu dan entah sampai kapan, kami tidak tahu.

Barangkali Anda tidak akan bertanya “mengapa” itu terjadi ketika Anda melihat rumah-rumah kami yang sederhana. Hanya berdinding papan dan berukuran kecil. Ya, memang bagi kami biaya untuk pasokan listrik memang mahal. Kami tidak sanggup membeli tiang-tiang listrik dan kabel-kabelnya, kecuali disuruh menjual dan menimbangnya pada juragan pembeli besi tua.

Untuk itu kami lebih banyak pasrah dan tak mau protes ketika daerah robek, wontong, loce, dsb yang jaraknya hingga puluhan kilometer dari Reo dijangkau listrik ketimbang daerah kami yang begitu dekat. Dengan cara begitu seolah semua alasan sudah terkatakan sehingga kami tidak perlu mencari tahu alasan dibalik ketimpangan pembangunan itu. Kami menerima bahwa lampu pelita adalah sahabat sejati kalau mengerjakan pekerjaan rumah dari sekolah.

Dulu pernah listrik masuk kampung kami dan sekarang hanyalah nostalgia belaka bahkan meninggalkan duri dalam batin yang jika diingat hanya membuat galau seperti orang yang baru saja putus cinta. Saat itu beberapa excavator , bulldozer, mesin-mesin raksasa, dan puluhan mobil truk datang ke kampung kami. Ada banyak orang asing. Mereka bermata sipit, rambut lurus, hitam dan berminyak, beberapa perut buncit, selalu memakai helm kuning tiap hari dan bersepatu bengkap. Salah satu yang selalu kuingat adalah Mr. Bejo. Ia selalu ramah dengan anak-anak walaupun bahasa Indonesianya membuat kami menyeringai tak karuan saat itu. Celananya selalu melorot. Ia harus mengenakan dua tali bersilangan depan dada yang menggantung dari bahunya. Belakangan baru diketahui kalau itu yang disebut celana monyet. Saat itulah pertambangan mangan dimulai oleh perusahaan Aneka Tambang di kampung kami.

Kami sangat senang dengan kehadiran mereka.Hampir tiap hari anak-anak pergi menonton mesin-mesin excavator menggali perut bumi dengan lahapnya, menjungkirbalikkan tanah-tanah hitam dimana cacing biasa bermain saat kami mencari umpan untuk memancing di sungai demi batu-batu hitam yang keras dan tajam, dan merasa ramai dengan truk-truk yang silih berganti datang mengangkut batu-batu hitam yang sudah dilabeli untuk dimuat dalam kapal yang sudah siap siaga ke luar negeri.

Yang paling menyenangkan kami dari kehadiran mereka adalah adanya listrik dan sebuah TV berukuran kecil. Base camp pekerja mangan dari Jawa dan Sumatra itu diterangi cahaya listrik dan TV sebagai hiburan di malam hari. Meskipun base camp mereka cukup jauh, kami datang berbondong-bondong tiap malam hari untuk menonton seumpama semut yang datang dari segala arah untuk mengurumuni cairan madu. Di depan tv kecil itu kami mulai kami duduk dengan sopannya, mulai dari anak kecil, perempuan, hingga laki-laki. Jam tayang Film Brama Kumbara dan Deru Debu paling padat. Yang paling belakang terpaksa harus berdiri di atas drum-drum minyak perusahaan. Sedangkan tayangan film G30S/ PKI yang wajib ditonton rakyat sebelum jatuhnya Soeharto, perusahaan mengerahkan beberapa truk untuk menjemput kami dari kampung-kampung. Lalu memarkirkan beberapa truk itu di halaman depan basecamp dengan baknya membelakangi TV sedemikian sehingga beberapa orang dapat menonton dari situ.

Setelah beberapa tahun kemudian mereka pergi. Meskipun yang tertinggal hanyalah tanah-tanah berlubang yang menganga sangat dalam dan lebar, tanah yang bercampur batu-batu kecil yang kasar dan tajam, dan tanah tandus yang ditumbuhi semak belukar dan tumbuhan liar yang membosankan, kami tetap ramah dan setia membantu mereka. Kami membantu evakuasi ekcavator dan salah satu bulldozer raksasa menuju kapal di pelabuhan Kedindi.

Saya masih ingat, ketika bulldozer itu melintas di atas jalan beraspal, aspal jalan langsung pecah berkeping-keping. Lalu kami mengakalinya dengan menyusun bekas ban-ban mobil di bawah roda baja bulldozer tersebut untuk mengurangi kerusakan jalan. Selama satu hari penuh, siang dan malam orang berganti-gantian menyusun ban mobil hingga alat berat tersebut sampai di pelabuhan. Seiring dengan kepergian mereka Kampung kami kehilangan tempat hiburan. Kembali gelap gulita dan menyeramkan.

Selang beberapa tahun kemudian datanglah bule-bule untuk tujuan pertambangan juga. Saya tidak tahu persis itu pertambangan apa. Mereka mengontrak rumah di samping kami dan membangun pagar bambu di sekelilingnya serta di belakang rumah dibangun dua gudang untuk menyimpan batu yang berkerlap-kerlip seperti emas.

Walaupun cahaya listrik kembali muncul di kampung kami namun rasanya tidak begitu menyenangkan. Seorang bule yang sering dipanggil Mr. John melihat saya dan teman-teman seperti penjahat kelas kakap yang perlu diawasi. Mata birunya tak bergerak dan penuh dengan tatapan curiga saat kami mulai mendekati rumah itu untuk menonton. Lalu kami pun tak mau mendekat dan hanya menatap dengan rasa penasaran dari luar pagar ketika dia duduk ditemani seorang gadis bermata sayu, bertubuh sintal, rambut hitam yang terurai lurus hingga bahu, dan menyadarkan kepalanya dengan manja di atas bahunya di depan baranda rumah pada saat menonton film di layar laptop.

Setelah beberapa tahun, mereka juga pergi dan meninggalkan tanah-tanah berlubang. Kampung kami menjadi gelap dan sepi. Sampai sekarang hanya lampu pelita tetap berjaya dan bernyala. Sedangkan hubungan kami dengan perusahaan tambang itu cocok digambarkan dengan peribahasa: “habis manis, sepah dibuang.” Benar-benar menyakitkan.

Logika yang Berlawanan

Menyaksikan dua perusahaan yang hari-harinya menyedot dan mengantar hasil tambang dengan truk-truk yang meraung-raung seperti kawanan dinosaurus pergi begitu saja dan tanpa meninggalkan “jejak apa-apa” adalah kenangan terburuk yang pernah saya alami di kampung kami. Kalau dicermati lebih dalam, “remah-remah” dari hasil tambang selama bertahun-tahun itu pun sebenarnya sudah bisa membantu kami untuk mendapat pasokan listrik. Begitu kami berharap. Namun remah-remah itu pun dijilat bersih. Keuntungan dari tambang tak pernah menetes ke atas lidah kami yang haus dan gerah karena terus-menerus menjemur punggung di bawah terik matahari.

Mengapa kami begitu membutuhkan tenaga listrik? Logikanya berlawanan dengan pemerintah. PLN menunggu kami mampu secara ekonomi barulah listrik dialirkan. Sementara kami berpikir, energi listrik adalah penyelamat untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi di tengah ketakberdayaan menghadapi tanah-tanah yang sudah tak sesubur beberapa tahun silam, hasil perkebunan yang tak menentu, dan sawah-sawah yang kering karena debit air yang tak cukup.

Beberapa orang sudah membuktikan gagasan itu. Ingin membebaskan diri dari lingkaran setan kemiskinan, mereka berani membeli atau mengkredit generator listrik. Lalu membuka usaha seperti bengkel, mebel, dan membeli meja billiard sebagai sarana hiburan. Bahkan ada yang sudah membeli truk untuk mengangkut pasir dan batu dari sungai. Hasilnya memuaskan. Dalam beberapa tahun terakhir, perbaikan ekonomi sangat mencolok. Rumah-rumah tembok mulai dibangun satu persatu. Dulunya anak-anak yang bersekolah tinggi hanya dihitung dengan jari-jari satu tangan, tetapi sekarang sudah mulai berlomba-lomba.

Terobosan dari beberapa orang itu memang patut mendapat apresiasi. Namun kami tetap membutuhkan bantuan pemerintah untuk menolong sebagian besar dari kami yang tak semuanya berani untuk kredit atau bermodal. Harapan itu selalu kami simpan dalam hati dan selalu bergema saat kami menghantamkan hammer di atas batu ataupun melihat anak-anak yang masih belajar di bawah lampu minyak, memangku wajah mereka yang tak bersemangat dan seringkali menguap lebar berkali-kali saat melihat cahaya remang-remang itu.

Kami sadar untuk tak perlu mengebu-gebu dengan harapan untuk mendapatkan penerangan yang mengakhiri gerhana berkepanjangan ini. Walaupun Jokowi berkoar-koar soal revolusi mental, kami masih ragu kalau lidah apinya menjalar hingga batin para penguasa di tingkat pemerintahan lokal.

Hanya ini harapan kami: semoga api cemburu dalam hati kami tidak seperti duri yang terus-menerus menusuk dan memanas-manasi dari waktu ke waktu sehingga membuat kami hilang akal dan menutupi semua jalan dengan batu-batu yang kami telah kumpulkan. Semoga saat jari-jemari kami terasa semakin panas membara tidak membuat kami ringan tangan untuk mengangkat batu dan melempar secara tak terkendali ke kantor-kantor pemerintah. Semoga kami selalu setia memberi hasil bumi dan membayar pajak daripada memikirkan imbalannya.

Catatan Penutup

Ini adalah kisah saya ketika pertambangan masuk ke daerah kami belasan tahun silam. Saya masih duduk di bangku SD saat itu. Mereka sudah lama pergi membawa jimat-jimat kami dan kami masih bercengkrama dalam gelap, bergurau dalam senyapnya malam, makan dalam cahaya yang suram. Kelahiran anak-anak pun masih disaksikan oleh pekatnya malam. Mereka bangun pagi dengan hidung dan jidat berwarna hitam sehabis diasapi lampu minyak tiap malam selama belajar.

Ini merupakan salah satu jeritan ketidakadilan terhadap kehadiran perusahaan tambang. Pertambangan tidak membawa perbaikan apa-apa bagi kesejahteraan masyarakat di sekitar lokasi tambang.

Lalu ketika akhir-akhir ini saya mendengar bahwa pemerintah masih membiarkan perusahaan tambang masih menari-nari di atas tanah Manggarai, saya amat yakin bahwa pemerintah tidak pernah berpikir dari perspektif korban. Sungguh memuakkan.

Apa yang mesti kita lakukan dengan model pemimpin seperti itu? Jangan tanyakan ke warga kami. Sebab kami hanya bisa menjawab, “Kami hanya menyiapkan batu.”