Video Uskup Kupang Tampar Imam Muncul Lagi di YouTube

1
2966
Cuplikan dari video, di mana Mgr Petrus Turang sedang menampar pipi seorang imam
Cuplikan dari video, di mana Mgr Petrus Turang sedang menampar pipi seorang imam
Cuplikan dari video, di mana Mgr Petrus Turang sedang menampar pipi seorang imam

Floresa.co – Sebuah video yang memperlihatkan aksi Uskup Agung Kupang Mgr Petrus Turang menampar seorang imam kembali muncul di situs video YouTube.

Video berdurasi 1:08 menit ini yang sebelumnya menjadi bahan perbincangan hangat setelah pada 14 Juli lalu diunggah pemilik akun Joshua Sinaga, kini beredar lagi setelah diunggah pemilik akun Chelluz Pahun.

Chelluz mengunggah video tersebut pada Selasa, 19 Juli lalu dan memberinya judul, “Prilaku Buruk Petrus Turang (Uskup Kupang), pelaku kekerasan dalam Gereja”. (Klik videonya di sini)

Hingga Kamis siang (31/7/2014) pukul 13.00 WIB, terdapat 431 orang yang sudah mengklik video ini dan diperkirakan akan terus meningkat pesat. Sebelumnya saat diunggah oleh Joshua, video tersebut menyedot 1.175 klik sebelum kemudian dihapus.

Dalam keterangan di video tersebut, Chelluz menulis, “Prilaku kekerasan yang dilakukan Mgr. Petrus Turang, dalam sebuah ritual Gereja adalah sebuah tindakan yang memalukan. Mgr. Petrus Turang layak untuk diskors dari tugasnya sebagai seorang Uskup.”

Kepada Floresa, Chelluz mengatakan, dirinya kembali mengunggah video ini karena dihapus pengunggah sebelumnya.

“Biarkan video ini menjadi sebuah proses pembelajaran bahwa Gereja juga perlu dikritik. Semoga petinggi gereja bisa mengevaluasi diri dan konferensi para uskup semestinya segera menyadari peristiwa yang memalukan ini”, katanya.

Sebagaimana terlihat dalam video ini, Uskup Turang menampar pipi seorang imam, setelah sebelumnya menegur imam tersebut yang tampak tidak mencium cincin di tangan uskup kelahiran Manado, Sulawesi Utara itu. Uskup Turang juga sempat menunjuk muka imam itu. Hal itu dilakukan di hadapan umat dan sejumlah imam yang hadir dalam gereja.

Beragam reaksi muncul terhadap video tersebut. Pemilik akun YouTube, Yuvens Darung, misalnya, mengkritik tindakan Uskup Turang.

“Perilaku yang tidak pantas dilakukan oleh seorang gembala”, tulis Yuvens.

Hal yang sama diutarakan oleh Raynaldy Klitschko.

“Sesungguhnya uskup kupang msih mmpunyai cara yg lbih trhormat untk mnegur romo atau pater yg tdk mncium tnngannya.. bukan dngan yang dilakukan nya ini… smua orng tentu menilai uskup ini sngat arogan, gila hormat, angkuh dan smbong… ini hanya mnjadi suatu noda bagi petinggi katolik….

Namun ada juga yang mengkritik Chelluz, pengunggah video ini.

“Jika anda pejuang kebenaran tolong  konsistant dengan perjuangan anda. Sebab video ini sudah pernah diposting terus ditarik lagi oleh pemilik. Kini muncul lagi… Hope you take it all the way…. salam,” tulis pemilik akun Dismas Mauk.

Informasi yang dihimpun Floresa, peristiwa dalam video tersebut terjadi dua tahun lalu dalam sebuah Misa Konseleberasi di Katedral Kupang.

Seorang imam projo di Keuskupan Kupang yang cukup terkenal mengatakan, Uskup Turang tidak lagi mau membahas masalah video tersebut.

“Itu peristiwanya sudah lama, tapi orang berusaha mengembuskannya lagi untuk memperkeruh suasana”, kata imam tersebut yang mewanti-wanti agar namanya tidak disebut.

Namun, ia menolak memberi penjelasan, ketika ditanya, apa kemudian ada upaya rekonsiliasi pasca kejadi itu antara Uskup Turang dan imam yang dipukul, juga terkait motif pemukulan tersebut.

“Saya tidak mau terlalu mencampuri urusan itu”, katanya.

Sementara itu, Uskup Turang belum bisa dikonfimasi, terkait munculnya video ini. Ketika dihubungi via nomor Sekertariat Keuskupan Agung Kupang, telepon tidak diangkat.

Sejumlah pihak yang dihubungi Floresa, menuntut sebaiknya Uskup Turang memberi klarifikasi terkait video ini, agar tidak terus menjadi bola liar. Apalagi di media sosial seperti Facebook, video ini terus menjadi topik diskusi yang panas.

Menurut mereka, satu hal yang mesti disadari oleh siapapun pemimpin termasuk Uskup Turang, zaman sekarang ini sudah demikian terbuka, dengan peran media sosial juga harus direspons dengan sikap yang bijak.

Teknologi informasi, kata mereka, begitu cepat bekerja jauh meninggalkan kelambanan uskup untuk secara rendah hati menjelaskan duduk soal aksi di dalam video tersebut.

Melarang video ini diunggah di YouTube dianggap tidak menjamin video yang sama tidak diunggah pihak lain, yang sudah mengunduhnya dan kapan pun bisa mengunggahnya kembali bila video yang kini masih bisa diakses dihapus dari YouTube.

 

Advertisement

1 Komentar

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini