Para Suster Ini Memilih Tetap Melayani di Jalur Gaza

0
752

Suster di GazaFloresa.co – Para suster dari Kongregasi Misionaris Cinta Kasih (MC) memilih tetap melanjutkan pelayanan bagi masyarakat miskin yang dilanda perang di Gaza, di tengah situasi masih terjadinya serangan pasukan Israel lewat jalur darat.

Suster Belfina, pemimpin para suster ini mengatakan kepada Sunday Express, mereka tinggal di Biara Latin di Zeiturn, Kota Gaza.

Ia menegaskan, mereka “tidak bisa pergi kemana pun”, entah dalam suasan perang atau tidak.

Tarekat Suster MC, yang didirikan oleh Ibu Teresa dari Kalkuta,  anggotanya di Gaza merawat lebih dari 24 anak dari berbagai bentuk cacat dan melayani 15 wanita lansia.

“Semuanya baik-baik saja … Kami semua aman. Kami sering mendengar bom di kejauhan. Bom ini lebih sering terjadi pada malam hari, tetapi tidak begitu banyak pada siang hari. Israel membom pangkalan Hamas di perbatasan. Tapi, Biara Latin kami berada di tengah Kota Gaza sehingga kami belum terkena perang,” kata Suster Belfina sebagaimana dilansir Ucanews.com, Rabu (23/7/2014).

“Kami telah mengambil sumpah untuk memberikan pelayanan sepenuh hati dan secara sukarela untuk orang termiskin dari yang miskin, tidak peduli apa situasinya”, lanjutnya.

Ia menegaskan, “Kami memilih untuk melayani di Gaza, karena daerah ini merupakan salah satu tempat termiskin di Timur Tengah. Kami telah terbiasa dengan suara bom yang meledak. Kami telah belajar untuk hidup dengan itu,” katanya.

Sementara itu Suster Liliet yang berasal dari Orissa, India mengatakan dia telah lama melayani di Timur Tengah dan datang ke Gaza setahun lalu.

“Biara kami di Ramallah sering ditelpon dari pusat tarekat kami di India, kadang-kadang empat kali sehari, untuk mengetahui keadaan kami. Mereka meminta saya kembali ke India … Tapi, saya tidak mau kembali,” katanya.

Pemboman, jelas dia, telah menyebabkan banyak kerusakan, rumah-rumah penduduk hancur, terutama di desa-desa termasuk Beit Lahiya dan Khan Younis di perbatasan.

Sebagian besar anak-anak di biara para suster berasal dari kami berasal dari desa-desa itu.

“Orangtua mereka meninggalkan mereka di sini sehingga mereka aman dan diberi makan dengan baik. Orang lain yang kehilangan rumah mereka dalam serangan udara berlindung di sekolah-sekolah PBB yang menyediakan makanan,” kata Suster Liliet.

Advertisement
BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini