Uskup Ruteng, Mgr. Hubertus Leteng, saat melakukan acara peletakan batu pertama pada 17 mei 2012 silam
Uskup Ruteng, Mgr. Hubertus Leteng, saat melakukan acara peletakan batu pertama pada 17 mei 2012 silam

Ruteng, Floresa.co – Warga Stasi Jengkalang, Paroki Wangkung, Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT) mendesak Keuskupan Ruteng untuk segera membangun gereja bersejarah di daerah mereka.

Hal tersebut diungkapkan warga melalui Ketua Kelompok Basis Gereja (KBG) Stasi Jengkalang, Bernardus Andara beberapa waktu lalu.

“Harapan kami tidak lain, kalau bisa dalam waktu singkat akan dibangunkan gereja di sini. Tempat ini bukan hanya pengakuan warga Jengkalang sebagai tempat bersejarah bagi gereja tetapi juga oleh Keuskupan Ruteng,” tutur Bernadus.

Bernadus Andara menyatakan, janji bangun gereja di Jengkalang disampaikan Uskup Ruteng, Mgr Hubertus Leteng 2 tahun lalu saat Gereja Katolik Manggarai merayakan usia 100 tahun.

Dan, kala itu dalam sebuah upacara Mgr Huber langsung melakukan peletakan batu pertama pada 17 Mei 2012.

Saat itu, dalam rencanannya akan dibangun gereja dan sekaligus tempat wisata religi. Kata Uskup, Jengkalang adalah tempat umat katolik di Manggari pertama kali dipermandikan.

Mereka yang dipermandikan pada 17 Mei 1912 itu adalah lain Henricus Andara, Agnes Aminah, Helena Luku, Sisilia Welu dan Katarina Arbero. Mereka dibaptis oleh Pastor Henricus Looijmaas SJ.

Hingga kini, menurut Bernadus, umat di stasinya masih berharap Keuskupan Ruteng menepati janji.

Apalagi kata dia, umat di sana merasa disudutkan oleh umat agama lain karena menurut pengakuan Bernadus, umat agama lain menganggap umat stasi Jengkalang diabaikan oleh petinggi Gereja Katolik.

Situasi itu yang membuat Bernadus yang juga pemilik tanah tempat dibangunnya gereja, berharap agar pihak keuskupan segera merealisasikan janjinya.

Ia menegaskan, andai saja Keuskupan Ruteng tidak pernah menjanjikan akan membangun gereja, maka umat Stasi Jengkalang akan merenovasi gereja yang pernah dibuat ala kadarnya pada 2011 silam.

Kini, tempat yang akan dibangun gereja sudah menjadi hutan. Padahal, di tempat itu, dua tahun lalu Uskup Ruteng tidak sekedar bernazar akan membangun gereja, tetapi juga sudah meletakkan batu pertama.

Hingga kini Floresa belum bisa mendapat respon dari Keuskupan Ruteng. Beberapa waktu lalu, ketika hendak dikonfirmasi ke Mgr Hubert, pegawai keuskupan menyarankan untuk menghubungi Vikep Romo Alfons Segar Pr. Namun, Romo Alfons belum bisa dimintai komentar.