Jokowi dan Frans Lebu Raya sedang menandatangani MoU terkait perdagangan sapi (Flobamora.net)

Kupang, Floresa.co – Penantanganan Nota Kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) antara Pemerintah DKI Jakarta melalui Gubernur Joko Widodo (Jokowi) dan Gubernur NTT Frans Lebu Raya terkait pasokan sapi dianggap oleh Viktor Lerik, tokoh masyarakat Kota Kupang sebagai bentuk pembohongan terhadap warga NTT.

Pasalnya, kata Victor, sapi di NTT tidak mungkin memenuhi pasokan untuk Jakarta.

“Bagaimana bisa sapi yang katanya akan dipasok dari NTT ke Jakarta 823.000 ekor, padahal kenyataannya menurut data BPS Provinsi NTT itu sangat mustahil,” kata Viktor seperti dilansir Kompas.com, Jumat (2/5/2014).

Menurut Viktor yang juga mantan Ketua DPRD Kota Kupang itu, kebutuhan konsumsi daging sapi di NTT sebanyak 58.535 ekor sapi. Sementara ketersediaan sapi potong (jantan dewasa) adalah 96.614 ekor sehingga terdapat surplus 38.079 ekor.

“Sementara itu, seekor sapi betina hanya melahirkan satu ekor setiap dua tahun. Sedangkan pola pemeliharan sapi di NTT adalah tradisional (lambat pertumbuhannya), yang artinya kalau sapi dikonsumsi NTT sendiri, maka akan berkurang drastis setiap tahunnya karena pertumbuhan sapi yang layak potong adalah berumur dua atau dua setengah tahun,” bebernya.

Apalagi, kata Viktor, Perusahaan Daerah Pasar Jaya di Jakarta yang mengurus daging sapi bermasalah karena selalu merugi dan terdapat temuan BPK yang mengindikasi ada korupsi besar-besaran. Karena itu, Viktor menyarankan kepada Jokowi dan Frans Lebu Raya agar segera menghentikan penipuan dan pencitraan di NTT.

“Jangan menipu rakyat NTT dengan pencitraan penuh kebohongan itu karena rakyat sudah tahu semua itu hanyalah pencitraan,” katanya.

Sebagaimana diketahui, pada Selasa (29/4/2014) lalu, Jokowi yang juga calon presiden PDIP mengunjungi Kupang. Kunjungan ini terkait dengan kesepakatan di bidang peternakan antara Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur terkait pengadaan daging sapi.

Kunjungannya ini juga dilatarbelakangi kelangkaan dan mahalnya harga daging sapi di DKI Jakarta, beberapa waktu lalu.